Tuesday, 15 March 2016

Gowes Sukamakmur Curug Ciherang

Sabtu, 5 Maret 2016 setelah sebelumnya dilakukan briefing dan rapat-rapat yang sangat intensif, dengan perdebatan yang sengit, dicetuskanlah rencana gowes kali ini ke Curug Ciherang. Peserta yang terkumpul kali ini berjumlah 1 orang, yaitu saya sendiri..hehe...
Rencana Gowes Demit-Curug Nangka-Koi-Gunung Bunder bersama Om Fajar yang batal karena beliau kurang fit, mengingatkan saya salah satu treat nanjak di daerah Sukamakmur yang cukup kesohor dan patut untuk dicoba, yaitu Tanjakan Tembok Curug Ciherang.
Sukamakmur merupakan rute alternatif menuju Kota Bunga/ Cipanas yang biasa dikenal sebagai jalur Puncak II. Jika dari arah Sentul City, melewati pertigaan Gn.Pancar lurus saja melewati depan Curug Leuwihejo sampai di pertigaan Cibadak belok kanan. Sedangkan kalau melalui Citeurep, masuk ke pasar Citeurep menuju Kebun Wisata Pasir Mukti, dari sini tinggal lurus saja ke arah Kota Bunga.
Berangkat dari rumah dikawasan Bojonggede jam 08.10, dengan membawa berbagai peralatan lenong mulai dari jas hujan, ban dalam, pompa, dan yang paling penting yaitu dompet isi lemper. Rute berangkatnya saya memilih jalur Sentul ke Cibadak via Leuwi Hejo. Rute ini lebih pendek dibandingkan jika kita melalui Pasar Citeurep. Karena sudah dua kali melewati jalur ini, agak sedikit terbantu juga untuk memainkan ritme kayuhan, karena sudah mulai mengetahui area-area tanjakan dan rolling-rolling yang perlu sentuhan permainan gigi. Sampai di jembatan kayu Karang Tengah, ternyata sudah berubah menjadi jembatan beton yang lumayan lebar. Turunan curam sebelumnya berlubang sudah di aspal mulus, jembatan lama yang dialasi balok-balok kayu masih terlihat di sisi kiri, karena perbandingan antara jembatan yang lama dan yang baru terlihat kontras, menjadi menarik untuk di abadikan.
View Gunung Pancar dari belakang
Menjelang belokan ke arah Gn.Pancar via Kawah Merah
Jembatan lama dan jembatan baru
Selpih dulu ah...
Setelah jembatan baru dilalui, langsung melahap tanjakan kelok, beruntung motor dan mobil volumenya sedang sedikit, sehingga berhasil dilalui dengan sukses sampai tempat foto session 2 ribu. Sampai di depan jalan masuk ke Curug Leuwihejo menunjukan pukul 11.20, pintu masuk menuju Curug Leuwihejo ternyata di portal dan pasang pemberitahuan kalau Curug Leuwihejo sedang di tutup untuk sementara waktu. Pantas saja, mobil dan motor ke arah Curug Leuwihejo tidak sebanyak biasanya jika Curug sedang di buka
.
Pemandangan disamping foto sesion 2ribu
ehmm........
Tidak lama kemudian sampailah di Jembatan Cileungsi. Beberapa tahun sebelumnya, jalanan ini pun berupa jembatan besi yang beralaskan balok-balok kayu. Sekarang sudah menjadi jembatan beton yang cukup lebar, tapi entah kenapa jembatannya berwarna kuning sama dengan jembatan kayu sebelumnya. Di sisi kanan jembatan ada kedai Kopi, tempatnya cukup rindang untuk beristirahat sejenak dengan pemandangan sungai Cileungsi yang sedang keruh dan debitnya sepertinya sedang naik. Pesan Indomie telor plus teh manis buat nambah tenaga nanjak sampai pertigaan Cibadak. Menurut Akang penjual Indomie, Curug Leuwihejo sedang di tutup lantaran debit air sedang tinggi, kemudian belum lama ini sekitar akhir Januari ada longsoran batu yang menimpa pengunjung curug. Untuk mencegah hal-hal yang di inginkan, sementara ini Leuwihejo ditutup sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Sebelum saya datang, menurut si akang, disini hujan. beruntung ketika hujan saya belum sampai kedai ini, dan ada 9 sepeda lewat sini menuju arah Cibadak. Kalau begitu saya adalah sepeda yang ke-10 yang lewat hari ini.hehe..
Warnanya sama kaya jembatan yang tadi..
Kalau melewati jembatan ini saya teringat ketika akhir 2010 saat saya pertama kali melewati jalan ini dengan mengendari motor Pulsar yang terkenal akan bobotnya yang berat pada saat itu, tanjakan curam dengam batu-batu besar lepas membuat tangan saya gemetar seperti orang tremor saking takutnya, very exiting. Berbeda dengan sekarang, jalannya sudah relatif bagus, hanya beberapa titik saja yang masih berlubang. Munculnya curug-curug seperti Leuwihejo,Barong, Putri Kencana,dkk berimbas membaiknya sarana dan prasarana jalan di daerah ini.
Setelah di bayar dengan tunai, langsung saya dikasih bonus sama si akang yaitu tanjakan sampai SDN 1 Cibadak. Indomie yang belum lama masuk perut langsung berubah menjadi mie kocok, karena perut terasa dikocok tidak karuan. Samping SDN 1 Cibadak ternyata ada kedai nasi yang ramai oleh Klub Motorcross. Untuk menu nasi kocok, mungkin lain kali saya sambangi warung motorcross ini.
Sampai pertigaan Cibadak, kalau ke kiri ke Citeurep, sedangkan ke kanan ke Cipanas/Kota Bunga. Saya ambil arah kanan ke Kota Bunga, cuaca mendung tiba-tiba berubah menjadi panas terik. Melewati kanan kiri persawahan semakin menambah sorot matahari, jalanan yang semula relatif datar berubah menjadi naik-turun. Tidak lama kemudian sampai di sebrang pasar Sukamakmur,jika lurus ke arah Jonggol, sedangkan kalau belok kanan ke arah Kota Bunga.
Pasar Sukamakmur
Baru beberapa saat gowes, ketemu jalanan yang hancur, tanah dan berlumpur berjarak beberapa ratus meter, motor-motor yang membonceng keluarga mau tidak mau harus turun jika tidak ingin jatuh konyol. Jalan naik-turun (rolling) terus dilewati sampailah di sebuah pertigaan dengan papan petunjuk ke arah kanan bahwa Curug Ciherang 4km, Curug Cipamingkis 4.8km. Sebuah papan yang memberikan harapan bahwa tujuan gowes kali ini tidak lama lagi akan sampai.
Jalannya hancur lebur lepas Pasar Sukamakmur
Jembatan Ciherang, warnanya kuning juga lho..
Sungai Ciherang
Mirip Gunung Pancar...
Ati-ati bang kecempLung kali
Aseekk...tinggal 4Km lagi..
Cuaca mendadak berubah menjadi gelap dan gerimis-germis kecil mulai jatuh. Gowes 4 km di iringi dengan hujan intensitas kecil dan sedang, cuaca gowes kali ini bisa dibilang cukup mendukung tapi tidak banyak membantu karena stamina sudah terkuras. Rolling-rolling tajam sepanjang 19km mulai dari belokan ke Gunung Pancar via Kawah Merah sampai papan nama ini, membuat menu nanjak utama ini sangat berat dilalui. Catatan waktu sudah tidak diperhitungkan, yang difokuskan lebih kepada ritme kayuhan, kalau orang jawa bilang slowly but sure. Tidak berapa lama kabut mulai menyelimuti kanan kiri jalan dengan dibarengi hujan sedang. Saya nyalakan lampu belakang dan lampu depan sebagai tanda bagi kendaraan bermotor yang lain biar tidak colak-colek. Setelah menanti agak lama, sampailah saya di tanjakan tembok. Tanjakan yang di nanti-nanti setiap goweser jika menuju kota bunga. Tanjakan yang cukup panjang dengan sudut kemiringan yang cukup lumayan. Dinamakan tanjakan tembok karena di sisi kiri jalannya membentang tembok dengan ketinggian sekitar 2 meter.
Kabutnya banyak bener
Mulai memasuki tanjakan tembok
Tanjakan tembok
Iklan dulu..
Mungkin kalau di tanjakan ini banyak yang jualan Batagor atau Siomay, bisa jadi namanya tanjakan ketoprak...haha..kagak nyambung kelessss
Sehabis menu tanjakan tembok, ternyata belum selesai, masih terlihat tanjakan ke kanan terus berbelok lurus. Istirahat sejenak diwarung pinggir jalan, tetapi karena warungnya tutup hanya bisa rebahan sambil meluruskan pikiran yang bengkok-bengkok. Lanjut gowes dengan dengan perlahan, 2 tanjakan terlewat sampailah diujung tanjakan dan terlihat tanda panah ke kanan bertuliskan Curug Ciherang. Waktu menunjukan pukul 16.25, benar-benar bukan catatan waktu yang bagus. Mampir di warung memesan teh manis panas. Bersepeda di kawasan pegunungan yang berkabut di temani segelas teh manis panas sungguh suatu nikmat tersendiri. Dipapan nama tertulis petunjuk Curug Ciherang 600m, sedangkan petunjuk dari Disbudpar tertulis 800m. Pemerintahan kita memang keterlaluan ya, jarak tempuh ke Curug saja sampai di mark up, dari 600m ke 800m ..hehe..
Papan petunjuk Kota Bunga 15Km lagi
Jalan menuju Kota Bunga
My pufy..
600m vs 800m
Jalan ke arah Curug Ciherang
Karena waktu sudah sore, saya tidak masuk ke Curug Ciherang, jadi jarak menuju Curug masih menjadi tanda tanya bagi saya, 600m kah? 800m? Jarak tempuh sudah sekitar 46km.
Pulang melewati jalan yang sama, tetapi tidak melalui Cibadak Leuwihejo, melainkan lurus melalui pasar Citeurep. Saya pertimbangan untuk menghindari rolling di Cibadak Karang Tengah yang pasti akan berat di saat stamina sudah kendur. Perjalanan sampai Pasir Mukti masih di suguhi dengan selingan tanjakan-tanjakan kecil yang bikin gemes. Track ke Sukamakmur ini sangat berbeda dengan kita nanjak ke Warung Mang Ade dari Bogor. Jika kita nanjak ke Mang Ade, pulangnya akan di suguhi full turunan sampai Jambu 2 Kota Bogor. Akan tetapi kalau ke Sukamakmur, pulangnya kita dihadapi dengan tanjakan-tanjakan yang hampir sama saat kita berangkat. Mirip-mirip jika kita gowes dari Bogor ke Ciboleger(Baduy) Banten, pulang pergi kita akan dihadapkan menu rolling . Tetapi menurut saya tanjakan dan rolling Sukamakmur lebih juara.
Sampai di rumah sekitar pukul 21.00 lebih banyak, total jarak tempuh sekitar 94 km dengan membawa oleh-oleh nasi Padang untuk makan malam.. Terimaksih ya rabb....

Sunday, 7 February 2016

Gowes Hambalang Via Tagana

Gowes Pilkada ke Hambalang Via Tagana ( Taruna Siaga Bencana ). Rabu,9 Desember 2015 bertepatan dengan hari libur nasional pencoblosan Pilkada. Gowes Pilkada kali ini disi dengan gowes Hambalang melalui Tagana. Tagana merupakan relawan dari berbagai unsur masyarakat umum yang memiliki kepedulian pada penanggulan bencana. Di jalur menuju Desa hambalang ini terdapat Gedung/ Kantor Diklat Tagana( Tagana Training Center) yang di sampingnya ada jalan pintas menuju Desa Hambalang.
Berangkat dari rumah di Bojonggede sekitar pukul 10.00. Meskipun sudah siang, tetapi berharap akan turun hujan menjelang sore biar menurunkan suhu dengkul yang pasti bakal panas sehabis nanjak. Sampai di depan sirkuit Sentul sekitar jam 11.00. Matarahari semakin terik dan perlahan-lahan naik menuju ke atas kepala. Berhubung lewat belakang Sirkuit Sentul jalanannya sudah hancur lebur dengan tanah merah, maka saya memutar melalui perumahan Griya Alam Sentul. Jalanan depan perumahan Alam Sentul hingga belokan menuju Hambalang tidaklah seperti dahulu, sekarang sudah di aspal mulus sehingga tidak dijumpai lagi batu-batu yang membuat tangan kesemutan. Sampai di depan perumahan Griya Alam Sentul, break dulu di Indomaret, tetapi tidak makan kitt katt. Beli Aqua plus Pocari untuk bekal sampai warung dipertengahan tanjakan. Satu botol Pocari langsung di sruput habis.
Depan Kantor Griya Alam Sentul
Papan petunjuk Tagana disisi kanan jalan
Sampai di depan warung pertengahan tanjakan, berhubung minuman masih ada, langsung belok kiri menuju Tagana. Sampai di depan Tagana hampir jam 12.00, matahari semakin terik diatas ubun-ubun. Perkiraan awal meleset, sepertinya hari ini bakalan cerah sampai sore. Sekitar 15 menit duduk berteduh di bawah pohon depan gerbang Tagana. Motor-motor yang berlalu lalang melihat pandangan yang aneh, mungkin mereka berpikir, tengah hari di siang bolong nan panas pula, seperti kurang kerjaan gowes kaya begini. What ever they said... kafilah tetap berlalu..
Warung pertengahan tanjakan: ke kiri Tagana, ke kanan proyek wisma atlet
Depan Gerbang Tagana Training Center
Selfie dulu ah...
Tanjakan semen di sisi kanan gerbang Tagana
Kring..kring—lanjut lagi. Kali ini yang dihadapi adalah full tanjakan semen sampai depan Mesjid Nurul Falah. Baru beberapa meter sudah terlihat tanjakan panjang yang bikin ban terangkat-angkat, mulut mencium handlebaar, dan pantat maju ke depan. Sempat bikin nyali ciut juga melihat tanjakan ini dari kejauhan. Setelah biang tanjakan sudah dilalui dengan sukses tanpa TTB, sejenak menepi untuk minum dan ambil nafas. Menjelang finish di depan Mesjid, ada tanjakan terakhir yang merupakan tanjakan penentuan. Tanjakan ini terdapat pohon jati dikanan-kiri,konturnya tidak securam tanjakan di awal,tapi tetap bikin ban depan ngetril kaya motor. Di Akhir belokan ini kaki saya seperti sudah kehabisan tenaga, akhirnya saya merasakan kejamnya tanjakan ini untuk kali yang kedua. Pertama kali lewat sini saya pun dipaksa turun oleh tanjakan ini. Next time akan dicoba menaklukan tanjakan ini. Dorong sedikit kemudian lanjut lagi gowes hingga sampai di depan Mesjid. Kemudian belok kiri naik sedikit sampailah di warung desa Hambalang. Dari Kantor Tagana hingga Warung desa Hambalang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sekitar jam 1 kurang, sudah sampai di warung. Berhubung warungnya tutup, terpaksa hanya bisa duduk-duduk manis di saung sambil sesekali rebahan. Karena matahari semakin terik, sekejap memejamkan mata..hingga tak terasa sudah jam 15.00, cuacanya sudah berbeda, awan sedikit agak gelap, menunjukan tanda-tanda akan turun hujan. Cuaca hari ini sepertinya sesuai dengan harapan.
Tanjakan menjelang mesjid Nurul Falah
Mesjid Nurul Falah
Munculnya disini deh....
Warung dibawah Kantor Desa Hambalang
Tiduran dulu ah....
Siap-siap turun melewati jalan yang sama, tetapi sampai dibawah saya tidak belok kanan melalui Griya Alam Sentul, tetapi saya belok kiri melalui pinggiran lapangan Golf tembus di belakang sirkuit. Benar saja seperti dugaan saya, melewati jalanan dekat Lapangan Golf belakang sirkuit, seperti membajak sawah. Terlihat dari kejauhan motor yang membonceng anak kecil terjatuh. Niat hati ingin menolong, saya pun sedang berjalan di jalan berlumpur nan licin, jadi tidak dapat mempercepat laju sepeda. Perlahan-lahan si Bapak bisa bangkit dari lumpur dan mendirikan motornya. Untunglah mereka berdua tidak mengalami luka serius.
Alat berat disisi jalan lapangan golf
Hancur lebur.....
Sampai di sirkuit tiba-tiba hujan turun...
Cuaca yang aneh....
Sampai di rumah jam 16.30, dengan kondisi basah kuyup karena hujan sepanjang jalan mulai dari sentul. Alhamdulillah gowes Pilkada kali ini berlangsung dengan aman dan kondusif....

Friday, 5 February 2016

Gowes Tanjakan Demit

GOWES TANJAKAN DEMIT
Sabtu, 18 September 2015 Start dari Puri Artha Bojonggede jam 06.15 janjian bertemu dengan Om Dokter Hidajat jam 07.00 di MC.D Paledang. Setelah dua kali saya berusaha mencari tanjakan Demit tidak ketemu, akhirnya om dokter bersedia mengantarkan saya ke salah satu tanjakan fenomenal di kawasan Bogor ini. Mengapa Fenomenal? Karena tanjakan Demit ini memiliki sudut kemiringan yang curam dibandingkan dengan tanjakan-tanjakan lainnya yang ada di Bogor. Menurut beliau, tanjakan seperti ini hanya ada di Demit/Sengked dan Paseban (daerah Megamendung).
Sekitar 07.10 saya sampai di MC.D Paledang, delay 10 menit dari jadwal yang di rencanakan. Bertemu beliau langsung lanjut gowes melewati Jl. Paledang, meski baru jam 7-an tetapi jl.Panaragan padat karena banyak angkot yang mengetem. Lepas dari kemacetan, mulai pemanasan di tanjakan pertigaan Gunung Batu, belok kiri ke arah Ciomas sampai bertemu lampu merah ambil ke kanan menuju Pintu Ledeng.
Jalan pintu Ledeng di lalui dengan kecepatan konstan 14-15km/jam di tengah hiruk pikuknya motor yang memulai aktivitas. Setelah menyusuri gang, sampailah di jalan menuju tanjakan Demit yang terkenal ini. Tetapi jika kita menanyakan tanjakan Demit ke tukang ojek, kayanya mereka tidak pernah tahu kecuali tukang ojeknya merangkap goweser. Orang-orang di sekitar sini tidak mengenal nama tanjakannya tetapi mengenal daerahnya dengan sebutan Sengked.
Jalan aspal rusak berbatu menyambut kami dengan bonus turunan, sampai melewati jembatan aspal mulai bagus kembali dan dari sinilah awal tanjakan tersebut.
Jalan dibelakang Perumahan Alam Tirta
Jembatan tanda dimulainya tanjakan the meat
Ambil ancang-ancang untuk nanjak
Saya mulai menyisakan satu gigi terkecil untuk senjata pamungkas nanti di atas Tetapi belum sampai titik klimaks, di pertengan jalan saya sudah memakai jurus pamungkas saya dan berhenti sejenak untuk menurunkan detak jantung. Lanjut kembali, dan melihat om dr. didepan saya dengan konstan terus mendaki tanjakan yang semakin lama semakin curam. Menjelang belokan terakhir, om dr. berhenti, dan bersiap-siap mengambil foto saya, saya melewati beliau yang terus memberikan semangat agar finish sampai ujung tanjakan, tetapi menjelang ujung tanjakan saya pun harus merasakan pahitnya tanjakan ini. Om dr. sudah beberapa kali menaklukan tanjakan ini, tapi kali ini rupanya beliau sengaja turun untuk mengambil gambar saya, trims a lot om.
Foto dari atas tanjakan
Genjottt terusss....
Hajaarrr bLLehhh........
Hufffss........
Sepedanya kecapean nanjak
Rute menuju tanjakan Demit, selain Pintu Ledeng bisa juga melalui depan Waterboom Zam-Zam Tirta, melewati depan Zam-zam Tirta terus lurus ke perumahan ALam Tirta Lestari, habis perumahan akan ketemu jalan aspal, ambil kiri, tinggal lurus saja nanti akan ketemu jembatan. Setelah itu siap-siap saja.....
Di ujung tanjakan kami beristirahat, karena warung belum buka terpaksa duduk dipinggir jalan saja sampai detak jantung normal kembali. Setelah melewati tanjakan ini, kami belok kiri untuk menuju jalan pintu Ledeng kembali, karena jam masih menunjukan pukul 09.00 kami mampir ke KKR makan Lontong sayur dan es kepala muda. Sekitar Jam 10.00 kami balik dan berpisah di depan mall BTM. Terimaksih om dr.hi yang telah menjadi fotografer dadakan..hehe.. Sampai di rumah jam 11.00 setelah menempuh jarak 38,90 Km PP. Alhamdulillah...

Wednesday, 27 January 2016

GOWES CURUG CILEMBER

Sabtu 5 september 2015 saya berdua dengan om Fajar mencoba trek Curug 7 Cilember. Setelah janjian di Group WA ABC ( Amal Bike Community) di sepakati bertemu di depan Pom bensin Bojonggede. Pukul 06.10 saya berangkat, kasih kabar dulu kalau tikumnya berubah di depan Indo Maret Darussalam. Tiba di Indomaret Om Fajar baru saja sampai, ini merupakan ke-7 kali nya beliau gowes kearah puncak. Superrr sekali om satu ini, mantap!! Sebelumnya, beliau selalu ke Puncak Pass, tetapi kali ini rutenya agak sedikit di perpendek yaitu sampai di Curug 7 Cilember. Teman-teman pekerjaan beliau ada acara di Villa Bharaya, tidak jauh dari Curug7 Cilember, jadi kami sekalian mampir untuk beristirahat sebentar disana.
Pukul 06.21 kami start gowes diantara hiruk pikuk angkot-angkot dan motor yang melaju kencang. Rute nya melalui Jl.Raya Cilebut-Lampu merah Jambu 2, belok kiri melalui Jl. Achmad Adnawijaya-Jl.Pandu Raya-Katulampa-Jl.Raya Puncak-Jl.Cilember. Sekitar hamper setengah 8 sampailah di Bendungan Katulampa, kami mampir di kedai nasi uduk. Langsung saja saya ambil nasi uduk jeung bala-bala, persiapan tenaga buat nanjak. Sistem makan disini prasmanan, jadi yang mau makan silakan ambil sendiri,asal jangan lupa habis makan bayar. Kemudian memesan minum wedang jahe susu, cocok buat menghilangkan angin-angin di dalam tubuh.
Setelah selesai makan kita lanjut gowes kembali, tetapi karena hari sudah agak siang, jalan tol menuju puncak sudah macet, sehingga banyak mobil yang masuk ke jalan alternative menyebabkan ruas jalan menuju puncak jadi macet pula. Di depan kolong jembatan kearah per3an Ciawi, kami belok kiri yang merupakan salah satu jalan alternative menuju puncak. Suasananya sangat asri karena sepanjang jalan merupakan aliran sungai yang jernih meskipun di depannya merupakan rumah-rumah penduduk. Tidak lama kemudian kami tembus disebelum jembatan pertama, dekat MM Juice dan kebetulan sedang di berlakukan satu arah menuju atas. Perlahan namun pasti saya mulai menggowes, om fajar di depan mulai meninggalkan saya di tanjakan pertama setelah belokan ke Pasir Angin. Setelah beberapa ratus meter, beliau kemudian berhenti untuk menunggu saya gowes, begitu seterusnya hingga jalan Cilember. Setelah masuk jalan Cilember, kontur jalan masih menanjak tapi cukup bersahabat, hingga sampailah di belokkan kearah Curug, satu tanjakan curam menghadang, badan saya di bungkukkan ke handlebar,kayuhan saya mulai sangat berat, sedangkan om Fajar dibelakang sudah teriak-teriak kalau ban nya selalu ngangkat, di ujung tanjakan akhirnya saya menyerah, untuk turun daripada dipaksakan takutnya kram. Om Fajar berhasil menaklukan tanjakan walaupun dengan susah payah dengan resiko kaki kram. Dikalangan goweser, tanjakan ini dikenal sebagai tanjakan Wiranto. Mungkin ada Villa Pak Wiranto kali y dekat-dekat situ??. Setelah tanjakan kita rehat dulu sebentar di depan rumah dengan pintu gerbang yang besar, kemudian keluar anak muda dari rumah itu, kita menanyakan Villa Bharaya, di jelaskan olehnya masih nanjak lagi ke atas.
Tepat jam 10.00 kami sudah sampai di Villa Bharaya, langsung di sambut dengan ramah oleh ibu penjaga villa. Kami langsung meminta untuk dibuatkan teh manis hangat, dan indomie telor yang menyusul 1 jam kemudian.
Setelah istirahat, jam 11.45 kami lanjut kembali menuju pintu gerbang Curug Cilember. Ternyata jaraknya dari villa tidak begitu jauh, sekitar beberapa menit kami sampai di pintu gerbang, foto2 sebentar kemudian putar balik untuk pulang.
Arah pulang kami melewati gadok-Ciawi-jl.Tajur-Jl.Pajajaran-Jl.Keradenan dan berpisah di Perumahan Bojong Depok Baru 2.Alhamdulillah sekitar pukul 14.00 sudah sampai di rumah. Terimakasih om Fajar yang dengan sabar menunggu saya disetiap tanjakan. Very nice trips today, thanks ya Rabb..!!

Sunday, 17 January 2016

GOWES BOJONGGEDE-LEUWI HEJO

Minggu 13 September 2015, gowes September Ceria menuju Curug Leuwihejo sebuah destinasi wisata yang sedang nge-hits di dunia maya karena ke indahan tempatnya yang terletak di Desa wangun. Orang sekitar daerah itu menyebutnya Curug Bengkok tetapi karena airnya terjunnya berwarna ke hijauan sebutannya lama kelamaan pun berubah menjadi Curug Leuwihejo.
Start gowes dari rumah pukul 07.00, keluar komplek Puri Artha lewat gang semangka langsung menyebrang ke Warung Wulan, melewati perlintasan kereta api setelah itu langsung di berikan bonus turunan hingga kali Ciliwung, nanjak sedikit langsung memasuki komplek Gaperi 2 menuju pintu gerbang Acropolis.
Menyusuri jalan raya sukahati, berbelok di sebrang gudang alfamart, perumahan Cibinong Asri 2, tembus jalan raya nanggewer hingga sampai di lampu merah sentul. Biasanya kalo lewat lampu merah ini ada bubur ayam Cianjur, tetapi karena di rumah sudah sarapan, bablas terus hingga Babakan Madang. Melewati Gerbang jungle Land, tanjakan-tanjakan kecil mulai menggoda, hingga sampai di pertigaan arah petunjuk gunung Pancar 1,5 Km. Sekarang sudah terpasang pula petunjuk arah, Curug Leuwlhejo 7Km, karena plang nya di depan pangkalan ojek, niat foto jadi diurungkan saja lain kali. Setelah gowes 3km, bertemu jalan arah Gunung Pancar via Kawah Merah (jalur belakang), jadi masih tersisa 4km untuk mencapai Leuwihejo. Mulai dari titik inilah rolling rolling tajam menguras stamina. Mirip rute Curug Nangka menuju Curug luhur, tetapi menurut saya tanjakan dan turunan disini lebih sadis. Jadi saya tidak perlu ngoyo gowes cepat2, alon alon sing bisa digowes saja.
Jam 10.07 sampai di warung parkiran mobil Curug leuwihejo. Pesen indomie dulu sama es nutrisari,biar segerrr,,..
Setelah beres makan, langsung turun dengan sepeda ke parkiran motor di bawah, jalanan berdebu terpaksa pakai masker biar keliatan gaya..haha.. Gak kebayang gimana kalau musim hujan, kayanya nih jalan tanah merah udah kaya dodol garut di tambah licin pulak pastinya. Setelah meliuk-liuk turun, sampailah di parkiran terbawah. Ternyata sudah ada 1 sepeda yang nongkrong dibawah, tukang parkirnya bilang: ”tuh temannya dibawah”. haha.. disangkanya saya satu grup kali ya..
Setelah kenalan dan ngobrol ngalor ngidul namanya bro Fauzan, beliau sedang menempuh S-2 di Tazkia Sentul. Baru 3 minggu mulai gowes tapi rutenya udah jauh2 mamen, KM 0 Plus Kampung Awan. Mantap buat mas bro yang satu ini, tapi ternyata beliau ini sebelumnya menekuni Parkour..olahraga yang loncat loncat tembok- tembok gedung itu lho..pantes aja, otot nya pasti udah sekeras besi yg gak bisa berkarat.
Setelah itu kita turun untuk melihat Curug Leuwihejo, tidak lupa sepeda di iket dulu biar gak di gondol genderuwo. Sampai disana, kita di haruskan membayar retribusi sebesar 5ribu, sebelumnya di atas sudah dikenai 10ribu perorang+5 ribu untuk motor/sepeda. Agak kecewa juga ketika tau harus membayar retribusi lagi, dengan suasana yang ramai, masuk kesana pun sudah tidak nyaman karena terlalu banyaknya pengunjung, jadi saya hanya sampai di bawah saja. Mungkin lain kali ketika hari kerja berlibur kesana tidak sepadat sabtu atau minggu.
Setelah selesai foto-foto, kami memutuskan untuk pulang, bro Fauzan pulang melewati rute yang sama ketika pergi, karena beliau mondok di Sentul, sedangkan saya memilih pulang melewati cibadak-Pasar citereup, dengan pertimbangan karena jika melewati jalan yang sama, sudah terbayang mengulang rolling-rolling yang mengikis stamina. Di jalan pintu masuk kami berpisah, bro Fauzan belok kiri ke arah Sentul sedangkan saya ke kanan menuju Cibadak. Dugaan saya ternyata meleset, jalan di Cibadak menyajikan rolling-rolling tajam hampir sama seperti sebelumnya. Nasi sudah jadi bubur, mau tidak mau harus dihabiskan. Melewati SD Negeri 1 Cibadak, sampailah saya di jalan Aspal nan mulus. Jika belok kanan ke cipamingkis terus ke kota Bunga Cipanas, sedangkan belok kiri ke Kebun Wisata Pasir Mukti belakang Pasar Citeurep. Saya mengambil kiri, sesekali masih di selingi tanjakan-tanjakan kecil, dengan kanan kiri panorama bukit-bukit yang mengundang untuk berselfi.
Alhamdulillah Jam 14.30 sampai juga di rumah dengan total jarak PP sekitar 57 Km. Gowes September Ceria kali ini berakhir dengan ceria pula. Terima kasih ya rabb..

Tuesday, 1 September 2015

GOWES BOJONGGEDE-GUNUNG BUNDER

Gowes Bojonggede-Gunung Bunder. Gowes kali ini saya ditemani dengan bro wildan dan Mas Gondrong ( karena rambutnya yang gondrong makanya beliau ini saya juluki si gondrong). Anyway busway TranJ, mas Gon ini sejak brojol sudah menyukai sepeda. Pada zaman dahulu kala,dia biasa bermain dengan BMX, seiiring dengan bertambah usia, beliau pindah haluan ke MTB. Kita lihat sepak terjangnya saja nanti. Gowes kali ini juga merupakan ajang uji coba Si Pupi (Patrol Putih) yang baru saja selesai di rakit. Setelah semalam suntuk wats apan (Lebayyy..) disepakati janjian bertemu dengan dengan bro Wildan pada Minggu,30 Agustus pagi jam 07.30 di Pom Bensin Bojonggede. Seperti biasa, janji hanyalah janji, jam setengah 8 muncul WA, baru sampai bamboo kuning om, ya suteralah. Sekitar jam 07.40, tiba-tiba muncullah apa yang di tunggu-tunggu. Bro wildan dengan membawa temannya, Mas Gondrong. Bro Wildan ini saya kenal ketika sebelum menjelang puasa, saat saya gowes sendiri di belakang Sirkuit Sentul menuju Hambalang, ketika sedang asik nanjak sambil menikmati pemandangan, tiba-tiba mas brow yang satu ini menyalip saya di tanjakan menjelang warung. Karena tujuannya sama, maka kita saat itu gowes bersama ke puncak hambalang. Bro wildan memberitahu ada rute lain menuju hambalang selain melewati Proyek Nazaruddin, yaitu lewat Tagana. Karena beliau orang Citeurep, jadi soal rute hambalang kayanya beliau ahlinya. Kalau kata FOKE bilang: serahkan saja kepada ahlinya. Trims mas bro, rute nya benar-benar bikin otot kaki tersiksa.
Balik maning ke leptop, setelah cepika-cepiki, kita bertiga mengetok palu rute yang akan di lewati menuju Gn. Bunder. Setelah pom ini akan belok ke Batu Gede guna menghindari st.Cilebut yang sulit di prediksi macet atau tidaknya. Setelah itu tembus di Perumahan Cimanggu City-Jasmine-Bubulak-Ciampe-sampai Cikampak kita belok kiri. Berhubung di perjalanan tadi tukang buryam sudah ludes terus, di pertigaan cikampak menuju Gn.bunder ini kita berhenti untuk isi bensin. Menu nasi uduk jeung bala-bala, lumayan nambah tenaga untuk persiapan nanjak. Menurut info tukang ojek, 18 km lagi menuju puncak, kaya AFI aja… Aplikasi GPS mulai saya hidupkan.. Saya gowes paling depan, tetapi baru beberapa kilometer, mas grondong ini mulai terlihat kebuasannya dalam melahap tanjakan demi tanjakan. Daripada saya di pepet terus di serempet oleh beliau, sya persilahkan beliau untuk jalan duluan. Dalam hitungan menit, mas gon ini sudah hilang dari pandangan mata, benar-benar edun makluk yang satu ini. Sedangkan bro Wildan dengan sabar menemani saya dibelakang. Bro Wildan menceritakan kepada saya, ketika mereka berdua gowes ke puncak beberapa waktu lalu, mas gondrong ini selalu menunggu beberapa ratus meter di depan, bener-bner edun. Memang ada benarnya apa yang dikatakan orang, bukan sepedanya yang penting tetapi sepedahannya yang paling utama. Mas gondrong dengan 7 speed jauh di depan meninggalkan saya. Setelah kurang lebih 9 km gowes, mas gondrong cengar-cengir di depan alfamart memperhatikan saya yang gowes dengan lemah gemulai, disampingnya terlihat juga bro Wildan asik makan semangka setelah di tengah jalan juga mengikuti jejak mas grondong, mendahului saya. Dilihat GPS, sisa jarak hampir setengahnya lagi, mungkin bisa jadi omongan tukang ojek itu tepat, karena tidak lama setelah itu Hp sya lowbat, sehingga sudah tidak tahu berapa jarak yg sudah di tempuh. Cylometer yg terpasang di sepeda, sudah malas lagi sya perhatikan akibat kebanyakan sarapan tanjakan.
Setelah cukup rehat, perjalanan kami lanjutkan, seperti biasa, mas bro berdua melesat ke depan, dan tidak lama kemudian hilang dari pandangan mata. Saya dengan menyisakan 1 mata gir belakang, gowes perlahan demi perlahan. Ketika menjelang Alfamart terakhir, yaitu belokan ke kiri ke arah curug luhur dan curug nangka, ban belakang saya tertancap paku, sepertinya ini merupakan ranjau paku, karena paku di tancapkan di spon dan kertas. Kebetulan saya bawa tambal ban, jadi saya coba bongkar sendiri. Sayup-sayup terdengar azan zuhur, alhamdullilah beres juga. Sya kabari Bro wildan kalau sepeda saya sudah beres di tambal dan siap meluncur lagi. Tetapi ketika baru beberapa meter, tepat di depan alfamart, ban saya kempes kembali. Setelah nanya sana sini, ada tambal ban di bawah sana, jadi saya turun beberapa ratus meter, dan ternyata, tambal ban ini letaknya tepat setelah ban saya kena paku. Jangan—jangan….
Tukang tambalnya tidak ada, entah lagi di dalam atau pergi saya tidak tahu, saya disuruh menunggu oleh beberapa anak muda di bengkel itu. Setelah cukup lama belum ada tanda-tanda muncul sosok penambal ban, tiba-tiba, mas grondong muncul dari atas, dia bawa ban cadangan, jadi akan dia bongkar sendiri. Kebetulan di depan ada mesjid, sya dan Bro Wildan Shalat Zuhur, Mas grondong mencoba memasang ban cadangan. Dikeluarkannya segala macam peralatan dari dalam tas ajaibnya, lebih mirip kantong doremon kayanya tas mas gondrong ini. Tetapi, ternyata ban cadangannya itu bocor juga. Sehingga akhirnya ban sya yang bocor dipasang kembali untuk di tambal. Setelah beres, jam 13.30 kita start kembali, setelah gowes 1 jam kita sampailah di pintu gerbang Gn. Bunder.Bayar tiket masuk, kita beristirahat di warung untuk makan siang. Makan siang kali ini indomie telor plus minumnya aqua.
Jam 15.30 kita turun, rutenya kalau dari atas melalui Alfamart, belok kanan menuju Curug Luhur, sampai di pangkalan angkot, kita belok kiri menuju tenjolaya, bonus yang dinanti nanti sepanjang 9km sebelum akhirnya kita belok kanan untuk mampir di rumah kerabat saya untuk sholat. Pukul 16.30, setelah 15 istirahat sholat dan secangkir teh hangat, perjalanan di lanjutkan kembali melalui dramaga petir, meliuk-liuk melewati perkampungan, sampai juga di belakang RS Medika dramaga. Macet siap menghadang di depan, dengan insting biker yang suka sruntulan, menyalip di bahu kiri jalan akhirnya lepas juga dari kemacetan. Orang bilang sih, macetnya karena ada pabrik Susu… Lho kan pabriknya Garmen,kenapa disebut parik susu, karena yang kerjanya kebanyakan perempuan….Adeuh..Aya aya wae ya orang.
Ketika sampai di bawah fly over saung kuring, two brow ini melanjutkan perjalan melalui jalan raya bogor via Kedung haling hingga ke Citeureup, sedangkan saya belok kiri ke arah Bojonggede. Sayup-sayup terdengar suara merdu Azan Magrib. Sekitar jam 18.30, Allhamdulliah sampai di rumah dengan Selamat. Trims ya Allah..

Monday, 15 September 2014

GOWES BOJONGGEDE CURUG NANGKA

Tanggal 7 Juni 2014 Gowes saturday kali ini dijalani dengan seorang diri,jam 8 teng dimulai lah start gowes dari rumah di kawasan Bojongnggede(kalau orang di kereta biasanya menyebutnya Bojongkenyot) ke Curug Nangka. Sebelum berangkat foto dulu Spidometer supaya tahu berapa jauh jarak yang telah ditempuh.
Spidometer menunjukan angka 1180, sengaja angkanya tidak direset sama saya, karena saya sendiri tidak tahu cara me-reset nya,,haha..Ini adalah gowes lanjutan dimana minggu sebelumnya saya gowes hanya sampai the Jungle. Maka kali ini setelah The Jungle langsung bablas ke Curug Nangka. Di mulai dari Jl. Raya Bojonggede terus menyusuri Jl.Raya Cilebut kemudian melewati pintu rel kereta api Kebon Pedes dan tidak lama kemudian sampai di depan Kantor Pos Kebun Raya Jl.IR.H Djuanda. Waktu menunjukan pukul 08.30, lumayanlah 30 menit gowes sudah sampai Bogor,not bad. Lanjut turun memasuki Jl. Empang kemudian belok kiri yang langsung disambut dengan tanjakan yang merupakan pemanasan sebelum memasuki BNR. Sampai di BNR terus naik ke arah The Jungle kemudian lurus melewati Resto Rumah Air ketika sampai di Jungle Fest belok kiri dan langsung disambut tanjakan halus sampai ke Cunang. Ketemu Alfamart. langsung deh pitstop dulu, beli pocari dan aqua buat stock di jalan. Karena belum pernah ke Cunang lewat marih, terpaksa GGS dulu ke penduduk lokal arah Cunang. Diarahkan untuk Belok kanan terus hingga nanti mentok di Jalan yang dari arah Ciapus lalu belok kanan. WOow.. setelah terhubung dengan Jl raya ciapus ini, tanjakannya semakin menggoda, sehingga beberapa kali saya berhenti untuk isi air. Menjelang pura jagattrya, saya berhenti dipinggir lapangan bola, kemudian minta tolong sama akang yang sedang mencari rumput untuk diambil di shoot.
Setelah menempuh perjalanan 2,5jam sampailah saya di pintu gerbang Curug Nangka, dan tidak lupa meminta tolong sama Bapak Penjaga Loket untuk minta di jepret. Trims bapa penjaga, jasa mu selalu ku kenang..
Karena tidak mampu membayar tiket, gowesman tidak masuk ke dalam area wisata Curug,dan hanya sampai di pintu gerbang saja. Waktu menunjukan jam 11.30 tepat dan spidometer mencatat 1209. Ini artinya jarak yang sudah ditempuh sejauh 29 Km.
Setelah cium tangan bolak-balik macam eyang subur ke penjaga loket, saya pun pamit izin meneruskan perjalanan untuk pulang. Rute pulang dipilih melewati Jl.Raya Ciapus turun terus sampai ketemu JL. Empang, jadi tidak melalui BNR lagi. 30 Menit tanpa menggowes, saya sudah sampai di depan Kebun Raya. Karena perut sudah mulai mengeluarkan suara-suara sumbang,gowesman mampir dulu di warung Soto Surabaya. Letaknya di sebrang depan Hotel Salak,persis dipintu masuk Kantor Kejaksaan. Soto ini menurut saya lebih enak dari versi asli nya ketika saya makan di kota Surabaya. Bumbu karinya tidak begitu kental dan suir suir kulit ayam kering menjadi hal yang di tunggu-tunggu saat di kunyah. Setelah membayar 10ribu untuk satu porsi, tenaga terisi kembali dan jam 13.00 sudah tiba kembali di rumah. Mengutip kata-kata pesulap Damian..SEMPURNA!!! Alhamdulillah....

Sunday, 13 April 2014

UP GRADE POLYGON PREMIER 2.0

UP GRADE SI POPI(POLYGON PREMIER 2.0) Setelah beberapa bulan menggowes si Popi( pangilan sayang kepada sepeda ane), mulai kewalahan juga saat menemui tanjakan. Popi yang hanya memiliki 7 speed altus terasa amat berat saat melibas tanjakan. Di tambah rute gowes yang semakin hari semakin jauh, dirasa sangaat diperlukan penambahan speed untuk efisiensi tenaga. Berikut hal-hal yang di up grade: RD : RD Altus diganti menjadi Deore 10 speed Chain : Menjadi Deore 10 speed Sproket : Menjadi Deore FD : FD Tourney menjadi Deore Shifter : Tourney menjadi SLX Hub : Hub Polygon menjadi Novatec 4 Bearing Crank : Mendaji Deore Fork : XCT menjadi Suntour XCR Brake : V Brake menjadi Bengal 606 Mekanis Brake Handgrip : Polygon menjadi Velo Saddle : SR Free Way Rim : Folker AM33 Pedal : Wellgo Setelah di up grade memang begitu terasa ketika menghadapi tanjakan-tanjakan curam, gowesan menjadi lebih enteng ketika speed masih 7. Hal ini juga berpengaruh terhadap efesiensi kayuhan, dimana tenaga yang dikeluarkan lebih efisien dibanding sebelumnya. Up grade memang dibutuhkan ketika rute yang kita lalui juga semakin bertambah berat. Saddle bawaan si popi memang terbilang cukup keras bagi pantat saya, karena meskipun telah dibiasakan dipakai berminggu-minggu tetapi rasa sakit bokong tidak juga hilang.SR free way selama ini saya rasakan sangat nyaman, gowes 60 km tidak terasa sakit dipantat. Memakai pedal bawaan si POpi beberapa bulan saya sering mengalami slip saat menggowes, ditambah bunyi berdecit yang di dalam pedal, menjadi salah satu alasan untuk mengganti pedal bawaan. Pedal Wellgo menurut saya dibandingkan pedal bawaan sangat jauh berbeda. Lebih sedikit agak lebar, sehingga nyaman untuk menggowes dan tidak akan mengalami slip ketika menggowes. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa untuk mendapatkan kenyamanan,diperlukan juga pengeluaran tambahan. Yang terakhir adalah up grade dengkul. Untuk yang satu ini tidak bisa dibeli ditoko manapun tetapi harus dilatih setiap hari. so..keep gowesing,to healty life.

Friday, 27 September 2013

THINK TIME TWO GOWES

Pusing juga ya ternyata memilih sepeda untuk newbie sepeda seperti saya. Setelah beberapa hari berguru kepada Si Mbah Google, akhirnya dapat juga target yang disasar. Dengan budjet 2juta ditetapkan 2 pilihan: United Avalanche atau Polygon Primere 2.0. Untuk spesifikasi keduanya relatif sama, 21speed,shimano altus,dll. Dilihat dari harga, seharusnya lebih murah united avalanche, tetapi kenyataan dilapangan saya temui lebih mahal united. Wah..gimana nih si mbah??!!! Giliran ketemu toko sepeda yang murah, barangnya tidak ada, atau jangan-jangan ini cuma modus toko sepeda aja. Kalau barangnya tidak ada di informasikan murah ke costumer, kalau barangnya sudah ada tetap mahal. Beberapa hari hunting capek juga gak ketemu United Avalanche, akhirnya mulai pencarian polygon primere. Untuk merk polygon Primere relatif lebih mudah mencarinya, di Hypermarket atau kalau mau yang lebih lengkap ada Roda Link yang menyediakan semua tipe polygon.
Pilihan sudah dijatuhkan, saatnya mulai menggowes-gowes....

GOWES CIORAY-SUKAMAKMUR

CIORAY-SUKAMAKMUR Senin 28 Pebuari 2022 bertepatan dengan hari libur Isra Miraj gowes dengan tujuan Cioray Sukamakmur. Setelah membaca berit...