Saturday, 25 April 2020

10 Tanjakan Miring di Bogor

10 Tanjakan Miring di Bogor
Nanjak kemana anda hari ini?? Bagi goweser yang tidak suka travelling tetapi hobbynya nanjak mungkin ini bisa menjadi referensi untuk menghabiskan akhir pekan dengan bersepada. Bisa dilakukan seorang diri apalagi sekarang sedang musim Covid-19 sehingga setiap orang wajib melakukan physical distancing, ataupun dilakukan secara berkelompok dengan tetap menjaga jarak aman.
Semua rute tanjakan ini masih di sekitar Bogor seperti Sentul, Citereup, Leuwiliang, Rumpin, Pamijahan, Cisarua, dll sehingga bagi orang yang tinggal Bogor dan sekitarnya masih memungkinkan untuk gowes pulang pergi tanpa harus menginap. Setiap tanjakan ada tingkat kesulitannya sendiri tergantung berapa tinggi tingkat elevasi dan panjang tanjakan nya. Berikut ini merupakan tanjakan atau rute nanjak yang ada di daerah Bogor dan sekitarnya yang patut di coba bagi para penikmat jalan nanjak:
1. Desa Hambalang
Merupakan salah satu rute menanjak yang memiliki beberapa variasi jalan sehingga tidak membuat bosan jika kita setiap akhir pekan kesana. Variasi ke 1 kita bisa melewati putatnutug di citereup dengan melewati uviversitas pertahanan. Variasi ke-2 bisa melalui jalan raya Tajur yaitu setelah Kebun Pasir Mukti ambil jalan ke kanan akan tembus menuju desa Hambalang. Variasi ke-3 bisa melalui Golf belakang sirkuit sentul. Di tengah perjalan nanti kita bisa memilih melewati jalan wisma atlet atau bisa melalui depan kantor tagana yang menyingkat jarak dengan konsekuensi jalannya lebih miring. Semua variasi tersebut akan berakhir di warung teteh hambalang samping kantor desa Hambalang. Jika kita masih memiliki tenaga karena dosis nanjaknya sudah berlebih, kita bisa melanjutkan nanjak Kembali ke kampung baru untuk kemudian diteruskan ke jalur anaconda. Atau bisa juga menanjak samping desa Hambalang ke arah Bukit yang akan berakhir disebuah makam.
2. Km 0 Sentul
Rute ini merupakan rute klasik, setiap pesepeda di jabodetabek pasti mengetahui rute nanjak ini mulai dari BMX, seli, RB, MTB, fixie dll. Dengan akses yang mudah dijangkau dan waktu tempuhnya relatif singkat, cocok bagi goweser yang hobby nanjak dengan jadwal yang padat. Goweser luar kota bisa loading disekitaran Sentul dengan waktu 1-2 jam sudah tiba di Km.0. Bagi goweser yang ingin tanjakannya lebih nendang bisa melewati Bojong koneng sedangkan jika ingin lebih landai tetapi dengan jarak yang lebih jauh bisa melalui jalur Cijayanti.
3. Gn. Pancar
Rute ini merupakan salah satu rute saya ketika pertama kali mengenal tanjakan. Bagi goweser yang sudah mulai jenuh di pungut retribusi jika melalui gerbang depan, goweser bisa melalui belakang gunung pancar yaitu Cimandala. Jalan kampung dengan tanjakan yang lebih menggigit dibandingkan jika melalui jalur depan titik kulminasi di sebuah sekolah dasar. 4. Gunung Geulis Gunung geulis terkenal akan lapangan golf, hotel dan wisata. untuk menuju kesana ternyata diperlukan usaha yg lebih. Rute menuju tanjakan gunung Geulis kita bisa melalui jalan katulampa dengan melewati perkampungan dan tiba di tengah2 hamparan rumput golf yg hijau atau bisa juga melalui Gadog Pasir angin. Habis nanjak pasti lapar? Gak usah khawatir, selepas menanjak kita dapat memesan sop iga di warung Eva yang tidak perlu diragukan lagi kelezatannya. Kosongkan perut dan siapkan uang yang cukup ya gaiss.. Yukk gowes kesana...
4. Rainbow hill.
Bukit pelangi atau rainbow hill merupakan Salah satu jalur yg bisa dilewati untuk menuju Km 0. Tetapi jika goweser ingin mencari sensasi yang berbeda, bisa membelokkan handlebaar goweser ke arah Rainbow hill. Bagi goweser yang takut kulitnya hitam, tidak perlu takut karena meskipun tanjakannya cukup panjang tetapi sepanjang jalan goweser akan di payungi oleh rimbunnya pepohonan. Jadi perawatan goweser dijamin tidak akan rusak.
5. Cisadon
Desa Cisadon merupan trek uphill dengan jalur makadam yang cukup menantang. Meskipun jaraknya tidak terlalu lauh dari Km 0 tetapi karena jalurnya tanah dan batu dibutuhkan semua extra, tenaga, waktu dan air minum yg untuk mencapai kesana. Karena hanya terdapat satu warung di tengah perjalanan. Sesampai di desa Cisadon kita akan disuguhkan pemandangan desa dan alam yang luar biasa asri. Apalagi sambil menyeruput kopi luwak khas Cisadon. Sehabis makan nasi liwet dan sambel ulek Cisadon kita dapat turun ke arah jalan raya puncak dengan melewati Puncak Langit Camping Ground dan Kampoeng Awan yang tersohor.
6. Jalur Anaconda
Untuk goweser yang hobi trek oprot jalur ini sangat rekomended untuk dinikmati. Patut untuk coba ditaklukan untuk goweser yang belum pernah menjajal trek ini. Trek ini merupakan salah satu jalur offroad disekitaran sentul yang cukup menantang. Masuk dari jalan Alam Sentul kemudian mengikuti jalur rencana Puncak 2. Kita akan di suguhi pemandangann yang lain dari biasanya. Jika ingin kesini siapkan cadangan air banyak ya guys dan cadangan tenaga yang cukup ya guys. Tapi dijamin pasti seru.. Kalo gak seru...uang tidak bisa kembali. Disarankan jika kesini saat musim kemarau, karena jika musim hujam treknya sukar di gowes dan sungai yang ada di tengah-tengah jalan menuju ke Cibadak seringkali meluap kala musim hujan. Belum lagi jika terjadi hujan petir sangat berbahaya ketika kita berada di tengah- tengah trek.
7. Tanjakan tembok Sukamakmur.
Rute Sentul-Leuwihejo-Sukamakmur-Mang Ade Puncak pasti melewati tanjakan ini. Tanjakan tembok merupakan tanjakan menjelang curug Ciherang dimana kanan kiri jalannya terdapat tembok. Tetapi ada juga yang menyebutnya tanjakan putus harapan, karena disaat tenaga sudah terkuras habis kita dihadapi dengan sebuah tanjakan panjang pastinya seperti orang yang putus harapan. Sebenarnya suka-suka kita saja menyebut tanjakan ini dengan sebutan apapun, karena belum ada hak paten nama untuk tanjakan ini, jadi sambil nanjak goweser bisa berkreasi untuk memberikan nama untuk tanjakan ini dalam versi masing-masing. Kalau saya sih biasa menyebut ini sebagai tanjakan ayu ting-ting, karena pas nanjak sambil denger lagi sambelado dihetset bikin nanjak jadi goyang-goyang sedap. Lebih lebih jikalau kita melalui sentul leuwihejo yang mana tenaga sudah banyak keluar, belum lagi setelah Ciherang menuju Warung Mang Ade Puncak. masih banyak tanjakan menanti. Persiapkan fisik yang cukup ya gaes jika ingin melalui jalur ini... Fisik sehat insyalllah aman..
8. Setu Rawagede
Salah satu setu dengan pemandangan eksotis yang letaknya tidak jauh dari curug Ciherang. Selain melalui tanjakan tembok, akses setu rawagede bisa juga melalui Jalan perkampungan. Meskipun kampung tetapi jalannya sudah di beton. Pemandangan bukit, sawah dan kontur jalan membuat kita sering2 berhenti untuk berfoto.
9. Tanjakan demit
Mendengar Namanya saya sudah menyeramkan apalagi kalau kita berpapasan dengan tanjakan ini. Ada yang lutut sampai gemetaran, ada yang nuntun, ada yang pura2 foto tetapi banyak pula yang kuat sampai ujung tanjakan. Demikian julukan tanjakan yang terletak di jl. Sengked Ciomas ini diberikan oleh para goweser.
10. Tanjakan pura kampung Salaka.
Sehabis goweser melahap tanjakan demit, bagi yang kurang puas bisa melanjutkan ke purajakatkarta kampung Salaka. Tanjakannya cukup membuat keringat terkuras dan kalori banyak terbakar. Sampai di depan pura jalan lupa untuk mencicipi nasi merah dan makasan rumah khas warung teteh pura. Sehabis making bisa melanjutkan selfie2 di kampung Salaka.
11. Buperta Sukamantri
Sukamntri camping ground termasuk dalam wiilayah Taman nasional Gunung Halimun Salaka(TNGH). Jaraknya tidak jauh dari Kota Bogor, rutenya bisa melalui BNR, Jalan Raya Ciapus atau melalui tanjakan demit. Dahulu jalurnya berupa jalan makadam khas TNGH, tetapi berhubung sekarang jalannya sudah di beton sehingga sensasi menanjaknya agak berkurang. Tetapi bukan berarti tidak patut dicoba, menanjak di tengah rimbunan hutan TNGH nan sejuk berudara segar
12. Tanjakan Patung Gajah
Terletak di desa Tajur Halang. Sebelum disuguhi tanjakan patung Gajah yang miring miring kita bisa menukmati sajian Susi Jahe dan berbagai menu gorengan di patung Kuda(letaknya sebelah patung Gajah).
13. Embrio
Dari patung Gajah kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Balai Embrio Ternak di daerah Cijeruk. Setelah patung Gajah belok Kiri melalui Villa Botani kemudian ke trek DH Cihideung sebelum sampai di depan jalan masuk BET. Masuk jalan BET kita akan langsung disajikan tanjakan yang bikin jantung manari nari kesana kemari. Plang BET dan pos satpan menjadi akhir dari perjalanan ini. Untuk bisa melanjutkan sampai pos 3 tanjakan ini kita harus memiliki ijin terlebih dahulu dari petugas yang berwenang. Dari Pos BET kita bisa melanjutkan ke Bukit alesano untuk session foto2 Sekitar 5-10 menit kita akan sampai di di sebuah rumah yang berdiri di tengah2 di atas Bukit.
14. Penangkaran Elang Loji
Terletak di daerah Loji Bogor, rutenya bisa melalui aspal jalan Cihideung atau bagi yang suka blusukan dari Bukit alesano bisa melanjukan ke arah penangkaran Elang. Melalui aspal jalan Loji
15. Tanjakan Koi
Terletak sebelum gerbang Gunung bunder(TNGH). Dinamakan tanjakan KOI karena dulunya ada peternakan ikan Koi, tetapi sekarang ini sudah tidak nampak lagi perternakan ikan Koi. Untuk menuju tanjakan koi kita bisa melalui depan terminal tenjolaya masuk ke arah curug ciputri setelah tanjakan pertama berbelok ke kanan mengikuti petunjuk arah curug ciampea. Sebelum Curug ciampea kita bisa bertanya ke penduduk sekitar arah menuju Gunung Bunder. Rute ke dua bisa juga dari terminal tenjolaya ke arah gunung bunder nanti berbelok ke kiri mengikuti jalan beton.
16. Tanjakan pohon Bambu Kp.ibu
Letaknya di samping tanjakan koi, sebelum tanjakan koi ada jalur semen yang cukup di lalui satu kendaraan bemotor. Jalan ini merupan jalan alternatif menuju wisata genggelang. Sebelah kanan jalannya di tumbuhi pohon-pohon bambu sedangkan di sebelah kiri jurang terjal sehingga merupakan jalur yang pas untuk nuntun-nuntun sepeda jika tidak ingin berbuat kesalahan fatal.
17. Tanjakan Gunung Malang
Tanjakan cekdam atau tanjakan gunung Malang terlatak di desa Gunung Malang arah menuju Curug luhur. Jika goweser ingin merasakan lezat dan nikmatnya tanjakan ini, goweser bisa menuju stamplas angkot Jurusan Laladon Situdaun. Tidak perlu khawatir jika gowes kesiangan, karena tanjakan Gunung malang di payungi pohon bambu yang membuat kondusif untuk menanjak, asalkan dengkul kondusif pada ujung tanjakan bisa menikmati semangkuk indomie telor dan teh tawar panas sambil menikmati pemandangan alam dari atas gunung malang.
17. Tanjakan Gunung Menir
Selain Gunung bunder ada juga Gunung Menir di Desa Ciasihan yang merupakan kampung surganya Curug. Karena begitu banyaknya curug-curug yang terdapat di Desa ini seperti curug ciparay, curug seribu, curug saderi, curug dll. Untuk rute yang paling mudah menuju kesana bisa melalui jalur cibatok menuju Gunung bunder, sampai dipangkalan angkot kita berbelok ke kanan atau jika kurang yakin bisa bertanya ke penduduk lokal.
18. Curug Ciparay
Terletak di desa Ciasihan merupakan kelanjutan dari jalur Gunung Menir. Jika goweser telah mandi keringat melahap tanjakan Gunung Menir sangat disayangkan jika melewatkan mandi di air terjun langsung dari sumber mata air pegunungan dijamin bakalan segar dan mengembalikan tenaga yang hilang terkuras. Dari Gunung Menir kita bisa melanjutkan ke fase berikutnya yaitu menuju Curug Ciparay. Jalan menuju curug Ciparay di dominasi oleh full tanjakan, pendek-pendek tapi tanjakannya menyakitkan hati. Siapkan dengkul dan kesabaran yang cukup agar sukses menaklukan tanjakan-tanjakan disepanjang jalan menuju curug Ciparay. Sampai di Desa wisata Ciasihan perjuangan kita akan terbalaskan dengan pemandangan yang tersajikan dan banyaknya tempat wisata disana. So..tunggu apalagi...Kuyyy...
19. Tanjakan Babinsa
Bagi para pemburu tanjakan, trek yang satu ini wajib dicoba untuk mengetes heart rate kita sampai seberapa tinggi. Terletak di daerah rumpin parung, dari pasar Nyungcung kita belok kanan mengikuti jalur beton sekitar satu jam perjalan kita akan sampai di tanjakan babinsa. Di sebut tanjakan babinsa karena jalannya di bangun oleh Babinsa setempat. Tanjakan curam dan panjang melebihi tanjakan demit. Disini mental goweser bakal di uji. Jika tidak kuat akan turun sadel jika masih sanggup akan berusaha sekuat tenaga sampai di ujung tanjakan. Jika kita sudah di ujung tanjakan kita akan senyam-senyum ataupun tertawa-tawa melihat perjuangan teman kita yang tersengal-sengal berusaha menaklukan tanjakan ini.
20. Tanjakan Cimanceri
Cimanceri merupakan sebuah kampung di daerah rumpin. Letaknya di atas bukit menjadikan kampung ini hanya bisa diakses roda dua saja. Merupakan satu jalur menuju babinsa, bedanya sebelum babinsa kita berbelok ke kanan. Memasuki kampung berupa jalan semen yang semakin masuk ke dalam semakin menanjak. Akhir dari rute ini adalah sebuah sekolah dasar. Goweser yang tidak kuat menanjak atau malas untuk menggowes dapat memanfaatkan jasa anak2 kecil yang menawarkan jasa dorong sampai sekolah dasar. Bagi Goweser yang hoby blusukan, dari cimanceri bisa melanjutkan ke kebun teh Cirangsad daerah Cigudeg. Meskipun jalannya makadam, tapi justru jalan seperti inilah yang dicari-cari goweser. Jalan-jalan batu, suasana sepi tanpa sinyal dan penduduk ditambah pemandangan bukit-bukit nan indah. Niscaya goweser bukannya kapok tetapi malah ingin mengulangi kembali.. Yang biasa CFD-an yuk sekali-sekali menjajal trek ini... Biar sekali-sekali juga gowes bebas asap kendaraan.
21. Tanjakan Gunung Suling
Cagar Alam Gunung Suling terletak di daerah rumpin. Tipe tanjakan nya seperti tanjakan kampung cimanceri. Diatasnya terdapat kampung yang disebut kampung Haniwung. Jika goweser ingin kesana waktu yang paling tepat ketika musim durian, karena di kampung haniwung goweser bisa menikmati durian parung asli dari kampung Haniwung. Rasanya yang manis dan harganya yang miring, membuat kita harus pandai-pandai mengendalikan diri jika tidak ingin gula darah naik dan kepala berputar-putar.
23. Tanjakan Pabangbon.
Pabangbon terkenal sebagai desa wisata dengan pemandangan alamnya yang memikat setiap pengunjung yang melihatnya. Dengan mengusung brand PAPA yaitu Panorama Pabangbon dalam waktu yang relatif singkat menjadi hits dan viral di medsos. Setiap akhir pekan bahkan sampai mengalami kemaceran... Gile lho droo.. Terletak di desa pabangbon kecamatan Leuwiliang. Selain panoramanya yang sudah hits, tanjakan pabangbon juga merupakan salah Saturday tanjakan yang hits untuk dicoba. Untuk menikmati menu tanjakan komplit ala pabangbon, ada baiknya goweser. Meneruskan rute dari pabangbon ke jalan raya antam pongkor. Menu super komplitnya bisa pula di teruskan ke arah desa malasari. Goweser yang penasaran ingin Mencoba, gak usah mikir terlalu lama, jangan menunggu sproket karatan, kumpulin tenaga yang banyak biar lulus semua tanjakan di pabangbon.
24 Tanjakan Keramat
Terletak di Desa Malasari yang merupakan salah satu desa wisata dengan wisata unggulamnya yaitu 1000 sawah terasering dan bangunan bersejarah kantor bupati yg pertama. Untuk mencapai ke desa Malasari bisa melalui jalan raya antam atau desa melalui desa Tanjakan Keramat dimulai dari kantor desa Malasari sampai gerbang masuk TNGH. Elevasinya yang lancip di tambah tenaga sudah terkuras habis, karena sejak dari leuwiliang sampai Malasari berupa full tanjakan, hanya sedikit orang yang lulus di tanjakan ini. Untuk goweser yang kerjaannya nanjak, tapi hobi cari duit, rekomended banget ini tanjakan untuk di coba.
25 kebun teh Cirangsad.
Selain kebun teh Gunung Mas dan Kebun teh Cianten, ada juga yang namanya kebun teh Cirangsad. Untuk rute gampangnya bisa melalui kebun sawit Cigudeg kemudian belok kanan mengikuti aspal hingga sampai di perkebunan teh Cirangsad. Tetapi ada juga rute lewat kampung dan tanjakannya lebih miring, goweser bisa pulang melewati jalan perkampungan dengan rute yang lebih pendek sampai di pasar Leuwiliang.
26. Tanjakan Si Genjlong
Tanjakan si Genjlong atau tanjakan tebing kandara merupakan salah satu tanjakan yang tidak bisa untuk tidak berhenti. Terletak di kampung Sadengkolot Leuwisadeng merupakan salah satu alternatif jalan blusukan ke panorama pabangbon dengan tembus tembus di bawah warung diseberang loket Papa. Sejatinya jalan yang sudah berupa beton ini menuju ke Panorama Alam wangun Jaya atau biasa di sebut penduduk sekitar yaitu pawaja. Pawaja masih dirintis oleh penduduk sekitar. Masyarakat sekitar ingin menjadikan pawaja seperti pabangbon yang ramai di kunjungi wisatawan lokal. Sebelum nantinya ramai oleh wisatawan, yukk goweser segera mencicipi tanjakan si Genjlong, tanjakan yang meliuk-liuk bagai anak tangga, bikin nyali goweser ciut jika melihat ke atas. Jurus uler, jurus naga atau jurus keong siput yang mlipir menipi bisa di gunakan tanpa harus malu ada yang melihat, karena jalannya relatif masih sepi, udaranya masih fresh dan pemandangan instaramable. Tidak usah berpikir lama-lama, gak perlu ajak teman jika temannya tidak mau, language saja sikattt tanjakan si genjlong jangan sampai kehabisan.
27. Rute Curug Panjang-Cibulao/Paseban
Rute ini saya gabungkan karena pada dasarnya meski berbeda tempat tetapi merupakan rute sejalur. Curug panjang dan Curug Cibulao met up akan Curug yang terletak di daerah Megamendung Puncak. Jika kita akan ke Cibulao pastinya akan melewati Curug Panjang. Rute Curug Panjang Cibulao bisa melalui gang pesantren atau bisa melalui pusdikkip polri Megamendung. Melalui gang Pesantren goweser akan dihadang oleh tanjakan-tanjakan yang bikin hidung kembang kempis. Ditengah perjalan akan ada jalan bercabang menuju Curug Panjang. Bagi goweser yang merasa belum terpuaskan bisa abaikan jalan menuju curug Panjang dan total lurus ke arah Cibulao/Paseban. Sedangkan jika goweser ingin sedikit santai bisa melalui pudikreskrim polri Megamendung. Kontur tanjakan yang panjang dengan kanan kiri rimbunan pepohonan menjadikan gowes melalui jalur ini terbilang adem meski dilalui saat siang hari. Sampai di Curug Panjang jika goweser ingin melanjutkan ke curug Cibulao bisa melalui jalan disamping warung meskipun harus sedikit dorong-dorong sepeda maka akan sampai di tanjakan terakhir menuju Cibalao dan Paseban. Sepertinya sia-sia jika gowes kesini Tanya mendapat tanjakan, tetapi melewatkan mandi di Curug nan dingin dan jernih. Goweser bisa mampir di Curug Cibulao yang posisinya berada diatas Curug Panjang. Selesai mandi bisa berfoto di lapangan Paseban yang disaat tertentu terkadang turun kabut sambil menikmati indomie telor dan teh man is di warung teteh paseban.
28. tanjakan Eagle Hill
Eagle hill Camp Merupakan sebuah tempat bercamping dan kegiatan outbond terletak di daerah Megamendung Puncak. Posisinya tidak jauh dari Pusdikreskrim Megamendung. Setelah tanjakan Bank Mega jika lurus turus akan menuju Curug Panjang, kita berbelok ke kiri menikuti papan petunjuk Eagle Hill. Tanjakannya dijamin membuat goweser melet-melet kaya orang celamitan.... Penasaran kan? tunggu lagi apa..eh..apalagi...berangkuy!!

Monday, 20 April 2020

Gowes Cimanceri - Kebun Teh Cirangsad

Minggu 8 Maret 2020 berangkat pukul 06.30 janjian bertemu dengan Om Dodik salah satu suhu di group Jarwo Bike Adventure jam setengah 8 di alfamart pasar Nyungcung. Tetapi karena berangkatnya kesiangan ditambah gowesnya tidak bisa ngebut jam 08.00 baru sampai, dengan posisi yang sudah bergeser di warung nasi uduk pertigaan jalan Nyungcung. Ini merupakan salah satu chek poin saya jika gowes ke arah rumpin dan sekitarnya. Gowes kali ini saya akan menuju ke arah perkampungan cimanceri, salah satu kampung yang tertinggal karena letaknya di atas perbukitan sehingga akses transportasi yang paling memungkinkan hanya sepeda atau sepeda motor. Sebenarnya sudah beberapa kali saya gowes mengunjungi kampung ini. pertama kali tahun 2017 saat mengantar group romli memberikan bantuan sosial setelah itu beberapa kali mengunjungi kampung ini sampai sekarang hampir tidak ada perubahan yang berarti. hanya jalan semen menuju ke arah kampung sekarang sudah lebih bagus dan dibeberapa titik dilakukan pelebaran. Jadi bagi goweser yang suka memakai jurus uler saat menanjak bisa di aplikasikan meliuk-liuk melibas tanjakan cimanceri. Kalau sebelum-sebelumnya saya hanya sampai di cimanceri atau pernah di teruskan tetapi ke arah Danau jayamix, untuk kali ini rutenya akan ditembuskan menuju ke kebun teh Cirangsad di daerah Cigudeg.
Baru melihat dari jauh, om dodik sudah cengar-cengir, tetapi saya tahu kalu dalam hatinya pedih menahan emosi karena menunggu hampir setengah jam lebih. Tapi beruntunglah berkat nasi uduk dan gorengan yang bercita rasa tinggi nan murah meriah berhasil meredam emosi akibat menunggu lama. Benar kata banyak ahli disaat orang lapar akan mudah untuk emosi tetapi disaat perut sudah terisi dan kenyang akan menurunkan tensi ketegangan. Tanpa basa-basi dan menunggu aba-aba untuk jalan, om dodik sudah lebih dahulu meluncur meninggalkan saya yang masih memandang tumpukan gorekan yang menggoda dan melirik nasi uduk dengan daun salam yang menggugah indera penciuman saya. Tidak ingin tertinggal saya pun langsung tancap pedal mengejar jejak-jejak ban sepeda om dodik yang masih menempel di aspal, dan dengan sangat terpaksa melupakan sang uduk yang sudah di depan mata. Next i will eat you babe....
Beberapa meter dari pertigaan Nyungcung kami belok kanan ke arah perkampungan. Meskipun jalan kampung tetapi jalannya sudah beraspal dan sebagian sudah di beton. Dibeberapa titik masih terdapat jalan batu-batu karena rusak tetapi secara garis besar jalannya sudah relatif baik. Jalan perkampungan dengan kanan kiri sawah dan perbukitan yang berdiri tegap di samping kita, membuat mata dan pikiran bertambah rilex. dengan sesekali melewati tanjakan yang aduhay membuat jantung kita manari-nari merespon mata, hati dan pikiran kita. setelah kurang lebih satu jam gowes kami pun tiba di warung Adul, warung yang terletak sebelum tanjakan babinsa. Mengapa tanjakan babinsa? karena jalannya ini menurut penuturan penduduk setempat di buka oleh babinsa. Di warung adul kami memesan teh manis hangat untuk memenuhi asupan tenaga. Karena setelah ini kami harus berjuang mendaki bukit sampai nantinya di sebuah bangunan Sekolah dasar, SD Cimanceri
.
Setelah beristirahat 1 jam lebih di warung adul, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan kembali. Mengapa istirahat bisa 1 jam lebih? ternyata eh ternyata teman kami yang kabarnya akan mnyusul tidak juga muncul sedangkan sinyal hp menjadi langka di daerah ini. menurut bang adul ada 1 rumah yang menyediakan sinyal, dengan biaya 1 jam sebesar 10 ribu rupiah. Mungkin maksudnya menyediakan WIFI kali ya, ah entahlah..,,Kami melanjutkan perjalanan kembali tetapi tidak melewati tanjakan Babinsa, sebelum Babinsa kami berbelok ke kanan masuk kampung menuju Cimanceri. Makin lama jalanannya semakin menanjak dan sudutnya semakin miring..dengan cleat barunya om dodik seperti menemukan feel of cleat, tanjakan yang biasa di dorong disikat habis tanpa sisa. Sedang asik-asiknya kami menanjak, muncul 2 anak kecil menghampiri kami menawarkan bantuan. Inilah satu satu ciri khas jika kita ke cimanceri, anak-anak akan muncul untuk menawarkan bantuan, jika yang bersepeda 5 orang maka yang akan muncul 5 anak, tetapi jika yang bersepeda 15 orang maka yang muncul disesuaikan dengan jumlah sepeda yang ada.
Jasa ojek dorong sepeda
Kalau sudah begini bukan masalah kuat atau tidak kuat, tetapi kita harus memberikan kesenangan dan kecerianan bagi anak-anak lokal disana. Dengan cekatan kedua anak tersebut mengambil peran kami berdua, Di pegangnya kuat-kuat setang sepeda kami kemudian dengan sigap mereka mendorong menuju lapangan SD Ciamnceri. Tibalah kami di sebuah gedung sekolah dasar Ciamnceri dengan nafas masih tersengal-sengal dan detak jantung berdebar kuat. Kami berdua duduk di depan sebuah kelas sambil memandang mkedua bocah yang riang gembira naik dan memainkan sepeda kami. Anak-anak cimanceri masih terbilang murni, karena tidak ada sinyal HP sehingga YouTube, berita streaming atau hiburan game online belum mereka kenal. Disatu Sisi ada dampak positif disisi lain ada juga dampak negatif dari kemajuan teknologi. Tinggal bagaimana kitaenyikapinya. Tidak ingin berlama-lama duduk disini, kamipun berdua bergegas melanjutkan perjalanan kembali. Kepergian kami dilepas oleh kedua bocah dengan tatapan mata yang sang at berating seakan berharap kita bisa tinggal lebih lama bermain dengan mereka. Yah... Moment seperti ini lah yang membuat gowes itu semakin bermakna selain juga menyenangkan. Kami pasti kembali nak. Tapi entah kapan, menengok kembali kalian dan kampung kalian.
Setelah melewati sekolah dasar kita masih menghadpi jalan semen yang menanjak menuju perkebunan warga. Jalannya naik turun hingga sampai di sebuah jalan raya yang masih rusak. Kami mengambil arah ke kanan yaitu ke perkebunan teh Cirangsad. Ini merupakan perkampungan terakhir yang kita jumpai. Setelah ini kita akan masuki hutan yang di kelola perhutani. Memasuki hutan perhutani jalannya mulai hancur-hancuran. Jalanan berbatu harus kami lalui dengan kesabaran. Lagi-lagi sepanjang mata memandang ke bawah kami di hadiri lukisan alam yang indah.
Jalan semen setelah SD Cimanceri
Masuk hutan perhutani
View disepanjang jalan hutan perhutani
Jalan makadam menuju Cirangsad
View menuju Cirangsad
Jalan beton menjelang kebun teh Cirangsad
Ditengah perjalann kami diguyur dengan hujan lebat, mengguyur badan kami yang panas akibat terus menanjak, tetapi karena tidak ada tempat berteduh kami terus melanjutkan perjalanan hingga sampailah di sebuah perkebunan teh. Jam 12 kami pun tiba di Cirangsad dengan kondisi cuaca masih hujan lebat. Kami pun berhenti di sebuah warung bakso untuk sekedar mengganjal perut. Pukul 13.00 karena hujan tak kunjung reda kami memutuskan melanjutkan perjalanan kembali. Turun ke arah leuwiliang bisa melewati perkampungan ataupun bisa melalui jalur aspal yang biasa dilalui Mobil pada umumnya. Karena khawatir licin jika melewsti perkampungan kami pun memutuskan melewati jalur aspal. Sampai di leuwiliang sekitar pukul 14.00 kami pun berhenti disebuah warung nasi untuk makan siang. Pukul 16.30 sudah tiba kembali di rmh dengan selamat tanpa kurang satu apapun dengan menempuh jarak 103 km. Alhamdulillah... trims om dodik untuk trek dan foto-fotonya yang liar biasa.

Monday, 23 April 2018

Gowes Curug Ciputri

Sabtu 17 Maret 2018 setelah satu bulan lamanya setelah acara zero to zero berlalu, baru kali ini nyemplung kembali bersama si redmoss. Tujuan kali ini menyasar pada sebuah air terjun bernama Curug Ciputri. Seperti biasanya sebuah destinasi wisata yang sudah cukup populer sejak beberapa waktu lalu tetapi baru kesempatan ini saya dapat berkunjung kesana. Terletak di Desa Tenjolaya tidak jauh dari terminal angkot Tenjolaya Curug Luhur.
Berangkat dari rumah sekitar pukul 09.10 dengan tujuan awal pemanasan dengkul di Tanjakan demit. Meskipun tanjakannya bikin jantung dagdigdug serrr, tapi entah mengapa banyak goweser selalu ingin datang kembali ke tanjakan ini, termasuk saya, bahkan ada yang sudah sampai di atas turun kembali untuk mengulang tanjakan ini beberapa kali. Sungguh aneh tanjakan ini....Yang aneh gowesernya apa tanjakannya? Ah..entahlah....
Lebih aneh lagi kalau mengaku goweser tapi belum pernah ke tanjakan demit. Mmmm.....tagar baru lagi nih?? Semakin hari sepertinya semakin berat saja kualifikasi menjadi seorang goweser. Mulai dari tagar Ciletuh sampai peringatan hari Kartini yang digagas para Lady Biker pun menyinggung eksistensi seorang goweser. Jangan-jangan ke depannya nanti seorang goweser haruslah seorang lulusan S1 atau Min D3 dari perguruan tinggi ternama dengan IPK minimal 2,75, alamakkss makin susah saja ngelamar jadi goweser....
Melihat tanjakan demit seperti love in first sigth, bikin salah tingkah dan jantung berdebar-debar. Takut dijalani tapi penasaran jika tidak merasakan sendiri. Akhirnya mau tidak mau harus dilewati demi pandangan pertama seperti lagu Alm. A Rafiq
Setelah melewati tanjakan demit di kejauhan saya melihat goweser di depan, segera saya menambah kecepatan meski kaki kelelahan, dari jerseynya sepertinya saya kenal, berwarna putih dengan strip merah. Tetapi di depan alfa ternyata dia berbelok ke kanan menuju daerah nambo yang kemungkinan turun kembali ke arah zamzam tirta, ternyata saya salah orang..haha.. Dunia tidak sesempit yang saya bayangkan. Orang yang saya kira ternyata sudah berada di Pure Jakatkarrta. Sebenarnya agak sedikit kepo dengan kondisi atau suasana pura hari ini, berhubung hari ini bertepatan dengan hari Raya Nyepi. Sepi banget kali ya?? Mirip ujian nasional mungkin?
Di sekitar Cilobak hujan mulai turun sepanjang perjalanan ke arah curug Nangka. Sepeda motor satu persatu mulai menepi tapi karena bukan karena saya mau lewat, tapi mereka takut kehujanan. Jam 12 sampai di depan Highland Resort And Hotel, berhenti sejenak menghela napas untuk mengadapi trek rolling menuju curug Luhur. Dengan ditemani hujan rintik saya melanjutkan kembali menikmati rolling mengasikkan menuju Curug Luhur. Di sepanjang jalur ini ternyata sekarang muncul tempat-tempat wisata baru, seperti Taman Kupu-kupu, Camping ground dan beberapa curug yang saya lupa namanya. Its will be next my destination. Berhubung lambung kapal sudah kosong, berhenti dulu untuk isi muatan di pertigaan ke arah Gn.Malang
.
Menjelang terminal Tenjolaya, disebelah kiri jalan terdapat papan petunjuk Curug Ciputri dan Curug Ciampea. Tidak perlu bertanya dan bertinyi lagi, langsung aja belok mengikuti papan petunjuk. Beberapa saat kemudian ada berjalan bercabang ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak perlu khawatir nyasar, karena ada spanduk petunjuk. Ke kanan ke arah curug Ciampea kalau kita lurus ke arah curug Ciputri. Tidak berapa lama saya sampai di gerbang curug Ciputri. Membeli tiket masuk sebesar 20ribu plus difoto sama si akang penjaga loket. Masuk ke dalam terdengar suara sekelompok siswa yang sedang mengadakan kegiatan bercamping. Dengan membawa sepeda langsung saja saya menuju papan petunjuk Curug Ciputri. Jalan yang habis diguyur hujan menjadi licin untuk dilalui, sepeda pun terpaksa saya tuntun. Menurut keterangan akang penjaga tiket, trekking dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Lha..gimana kalau saya bawa sepeda. Seperti yang sudah saya perkiraan, life is never flat, begitu juga trek kebanyakan curug yang naik turun tangga, begitu juga dengan curug ciputri, membuat saya berpikir untuk tidak melanjutkan sampai ke curug berhubung hari sudah menjelang sore.
Overall, saya suka suasana di ciputri yang bersih, pengunjung pun tidak begitu banyak karena akses mobil menuju ciputri agak sedikit sulit, dengan adanya empang dan saung di tengah kawasan perkemahan seperti berada di sebuah pedesaan.
Pukul 15.00 saya langsung beranjak pulang menikmati sensasi turunan ciputri sampai tenjolaya. Hanya butuh 30 menit saya sampai disebuah rumah di Desa Cinangneng. Lebih dari 30 tahun rumah ini tidak berubah, tapi suasana desa ini telah banyak berubah tergerus moderinasi zaman. Jembatan bambu digantikan jembatan beton, jalan setapak berubah menjadi aspal hotmix, sebuah pendopo yang dahulu berdiri kokoh telah roboh termakan usia, bahkan tidak jauh dari sini akan dibangun perumahan. Hufff..tak terasa hari sudah menjelang isya, saya kemudian berpamitan pulang. Its so many memory through in here..I hope it always. Ternyata gowespun dapat dapat dijadikan acara silahturahmi keluarga. Alhamdulillah pukul 20.30 sampai dirumah dengan selamat. Kunjungan curug selanjutnya lebih baik sepeda di titipkan saja..hehe

Sunday, 17 December 2017

Gowes Bukit Alesano

Gowes Perdana ke Bukit Alesano, Bukit di daerah Cipelang Bogor yang sudah cukup lama nge hits tetapi baru bisa saya kunjungi sekarang ini. Sabtu 16 Desember 2017 tenyata bukan SIM Card saja yang punya perdana tetapi gowespun ada perdananya, bedanya perdana yang ini tidak perlu registrasi yang bikin ribet nitizen proletar macem saya. Kisah nyata kemarin dari 2 kartu SIM yang dimiliki dua-duanya gagal teregistrasi karena menurut 4444 data tidak di cocok, hadeuhh...bikin sakit kepala. Di tambah masalah gas langka dimana-dimana, nyari gas udah kaya nyari barang antik, susah bener bro. Lagi susah-susahnya nyari gas denger pidato Trump, terasa pengen lemparin si melon ke mukanya. Daripada kepala tambah mumet mending dibawa gowes aja, piknik gak mampu tapi minimal kalau tetangga nanyain, kita lagi pergi..heheh...
Tepat jam 08.20 mulai beranjak dari rumah menyusuri Jl. Raya Cilebut-Pajajaran-Cipaku-Rancamaya. Pukul 09.40 sampai di Tugu Kujang, tidak terlihat goweser-gowesser berlalu lalang, seperti bukan hari sabtu. Jam 10 melanjutkan perjalanan melalui batutulis cipaku tetapi tidak melalui jl.Cihideung. Setelah melalui stasiun batu tulis kita ambil jalan luruske arah Rancamaya dan tidak belok kanan melalui jembatan. Tidak jauh dari gerbang Rancamaya ternyata sedang di bangun Tol Bocimi. Kabar gembira nih bagi yang senang maen ke Sukabumi, karena planningnya Maret 2018 akan dibuka tol Bogor-Cigombong, dengan catatan kalau jalannya sudah jadi..hehe.. Kalau belum beres juga ya podo ae.... Karena sudah lama tidak melalui jalur Cihideung via Rancamaya jadi ada kepingan-kepingan ingatan di otak yang hilang. Untunglah ada bapak security yang memberikan petunjuk ke jalan yang benar. Ke Durian warso melalui rel kereta merupakan clue jika kita bertanya kepada semua orang disana. Sampai di rel kereta minta tolong sama anak kecil yang sedang melintas buat di foto, kapan lagi lewat marih brohh..momentnya jarang-jarang.
Satu setengah kilometer menjelang Warso Farm tiba-tiba hujan turun lebat, untung ada saung untuk berteduh. Azan zuhur sayup-sayup mulai terdengar, waktu menunjukan jam 12 kurang. Karena hujan sangat lebat lebih baik menunggu sampai agak reda. Kalau saat pulang hujan mungkin tidak masalah jika ditrabas, tetapi jikalau saat berangkat seperti ini harus berhujan-hujan ria, waduh aku tak biasa pemirsa. Hujan reda jam 13.20 langsung sambung lagi gowesnya, tujuannya warung padang sebrang Warso Farm. Gowes tanpa makan siang ibarat mesin kendaraan kehabisan bahan bakar, gak bisa jalan kecuali di dorong. Jam 14.00 lanjut kembali dengan pitstop warung teh manis depan plang BET. Kebetulan sedang ada beberapa Sopir truk yang sedang ngopi di warung tersebut. Munurut mereka tadi ada 5 sepeda yang naik ke atas, sambil mereka memberi saran kepada saya untuk menunggu di warung ini saja sampai mereka turun..Lhaaaaaaa.....Ane kaga kenal mereka broh..huhu... jadi pengen nyopir kalo begini.
Start dari plang BET bagai perang batin dengan tanjakan beton di depan, dalam ilmu psikologi disebut psikis war. Waduh hebat bro ente tau-tauan ilmu psikologi. FYI, bukan ane sombong ya pemirsah, dulu kampus ane selain sebelahan dengan toilet juga sebelahan dengan jur Psikologi, jadi ane sering nguping waktu dosennya ngasih mata kuliah..hehe..
Jangan lupa bro, kalau habis ngomong mulutnya disiram...waduhhhhh....
Ngomong ngemeng apa sih bedanya Psikis war dengan Stars War? Kalau stars war kaga ada tanjakannya bro, kalau psikis war kebalikannya, turunannya yang kaga ada. Andaikan di tanjakannya tidak ada orang, alangkah bahagianya jika bisa mendorong-dorong sepeda. Apesnya beberapa orang penduduk lokal sedang memperhatikan saya, kemudian ada pula anak kecil yang manggil manggil sepeda, membuat mental yang jatuh kembali bangkit. Dengan sangat terpaksa tanjakan pembuka tidak dapat melakukan dorong-dorong karena banyak yang nonton. Untuk tanjakan-tanjakan selanjut, silakan saja anda tebak sendiri....
Bukit Alesano terletak di sebelah kiri jalan sebelum Pos Embrio. Sebelum ke Alesano saya sempatkan untuk foto dulu di papan nama Embrio. Sungguh Ikonik sekali papan ini, jika gowes kesini hukumnya adalah wajib berfoto dibawah papan nama ini. Bagaimana jika sudah terlanjur gowes kesana tetapi lupa atau tidak sempat berfoto dibawah nama ini, maka anda hukumnya wajib mengulang kembali gowesnya dari awal. Eee..busett...
Setelah beberapa meter belok kiri dari Plang Embrio, jalanan bercbaang dua, ke kiri dan ke kanan. Berhubung motor-motor berbelok ke kiri saya mngikuti mereka karena feeling saya mereka pun pasti sama dengan apa yang akan saya tuju. Jalanannya berupa tanah dan ditemui sisa-sisa jalan aspal yang telah rusak. Sebelah kiri terdapat 2 tenda yang sudah berdiri dan diatasnya lagi terdapat bangunan, perkiraan saya villa ternyata sebuah warung dan mungkin juga di jadikan sattlement. Di dapan warung ternyata sudah ngetem mobil bak tukang tahu bulat, mungkin dari bawah mah masih bulat, tapi kalau sudah sampai atas sini bisa jadi udah jadi trapesium..hihi...
Jam 16.05 akhirnya tiba di titik tertinggi bukit Alesano. Sebenarnya ada jalan naik yang pastinya lebih tinggi lagi, tapi menurut Akang penjaga jalan tersebut berakhir di Villa pribadi. Sesaat saya tidak bisa melihat pemandangan apapun di depan mata karena tertutup oleh kabut tebal yang tiba-tiba menyelimuti bukit ini. Sekitar jam 16.15 kabut hilang tersapu angin,secara perlahan-lahan laksana jendela yang tersingkap tirainya, tersaji pemandangan indah di depan mata. Kesempatan ini tidak di sia-siakan, langsung minta tolong sama Akang penjaga untuk pegang kamera. Kemudian ngobrol-ngobrol sejenak dengan si Akang. Menurutnya tadi siang juga ada satu sepeda foto-foto disini tetapi dia lupa menyakan asalnya darimana. Dia juga bercerita kalau sekarang sudah tidak boleh lagi camping di sekitar sini, salah satu permasalahanya yaitu mengenai pemasukan yang didapat oleh pengelola tidak dirasakan oleh pemilik lahan sehingga timbul konflik. Mungkin banyak aspek-aspek lainnya yang menyebabkan larangan bercamping disini yang kita tidak ketahui. Untuk mengatasi para pengunjung ”nakal” yang masih mendirikan tenda, aparat gabungan dari polsek, kodim dan kecamatan terkadang melakukan razia untuk menertibkan para pengunjung tersebut.
Jam 16.30 pamit pulang kepada akang penjaga, beliau menyarankan untuk lewat jalur cor-coran semen, jaraknya lebih dekat untuk keluar dan muncul persis di belakang Pos penjaga portal Embrio. Jalanan ini bagus, tetapi behubung di portal setinggi pinggang sehingga hanya bisa di lalui sepeda saja. Tidak lama kemudian saya sudah tiba di belakang pos penjaga embrio dan keluar melalui jalan pertama kali masuk, tetapi arahnya dari sebelah kanan jalan arah masuk. Pantas saja motor-motor memilih ke arah kiri, karena di depan terdapat portal yang menghalangi mereka.
Jam 18.45 alhamdulillah akhirnya tiba di rumah dengan selamat meskipun sepanjang perjalanan pulang harus hujan-hujanan dan berjibaku dengan kemacetan kota bogor. Waktu tempuh dan jarak tempuh tidak terukur yang penting hati bahagia ..hihi...

Monday, 30 October 2017

Gowes Sukamantri

Siapa sih yang tidak mengenal Sukamantri?? Kalau goweser yang hobby nanjak pasti sudah tidak asing lagi dengan jalur sukamantri. Bagi yang belum tau berarti mas bro sekalian kurang updet. Masa kids jaman now gak tau sukamantri. Banyak-banyakin googling makanya, jangan hoax terus yang dibanyakin..hihi
Hampir satu tahun lebih belum menyambangi Sukamantri, kangen juga akan rindangnya dedaunan, suara jangkrik dan bau hutan TNGH. Apalagi kemarin baru saja membeli hammock, momentnya jadi pas bnget, gowes plus hammockan di Sukamantri. Selain itu, trek makadam Kujang Raider yang melegenda bukannya bikin kapok,tetapi malah semakin membuat para goweser kangen ingin dan ingin kembali lagi kesana. It's the one of uniqueness Sukamantri Camping Ground. Kalau orang Jerman bilang ngangeni.
Sabtu 16 September 2017 berangkat jam 10.30 dari rumah janjian dengan Arif di Billabong jam 11.00. Sampai di Billabong belum ada tanda tanda kehidupan. Jam 11.10 Akhirnya Arif nongol juga. Dasar anak muda, gak butuh istirahat langsung ngajakin cussss aja. Kayanya dia udah tidak sabar untuk berkenalan dengan yang namanya tanjakan demit. Rute yang akan kami lewati yaitu Jl.Atang Sandjaya, bubulak, Pagelaran, Zam-zam tirta, Demit, pertigaan Cunang, masuk ke jalur Demit, banyak group gowes yang menyebutnya warung tutup, karena keseringan warungnya tutup terus. Tapi beberapa kali saya kesana warungnya kebetulan selalu buka, jadi saya menyebutnya warung buka..hehe..itu mah karena mereka lagi apes aja kali ya. Cuciann deh kamyuu.. Jam 12.30 kami akhirnya tiba di demit. Di tengah terik sinar matahari kami berdua berusaha sekuat tenaga menaklukan salah satu dari 10 tanjakan maut di Bogor, tapi versi saya..hihi.. kalau versi pulisi yang pertama pasti tanjakan Selarong.lol.
Meskipun dengan susah payah letih lelah kami akhirnya sampai di ujung tanjakan.
Next destination yaitu Sukamantri. Jam 13 lebih kami meninggalkan Demit. Incaran kami selanjutnya yaitu warung nasi dan mesjid. Tapi berhubung cuaca hot banget, justru kami lebih banyak berhenti di warung-warung kelontong membeli minuman. Cuaca panas perut kembung gowespun jadi mlehoy. Di pertigaan Ciapus Curug Nangka akhir ketemu jg warung padang, hajarrr...
Jam 14 kami melanjutkan perjalanan masuk ke jl Taman sari. Setelah melewati danau kami berhenti kembali di sebuah mesjid. Terlihat dari depan sedikit panas,tetapi jika kita ke belakang, sejuknya bukan maen bro. Habis Sholat rebahan jadi pengen tidur aja, gak pengen gowes. Sampai di pertigaan warung buka tutup, aspal berganti batu-batu. Meskipun matahari masih terik tetapi udaranya sejuk di tambah angin yang semilir. Jam 15.30 kami sampai di Kujang Raider, merupakan kawasan yang juga di pakai untuk latihan tentara. Pintu gerbang perkemahan sekitar 3 km dari gerbang ini. Meskipun jaraknya pendek,tetapi kami memerlukan waktu yang panjang hingga sampai gerbang perkemahan bumi sukamantri. Maklum mas broh, kita-kita bukan atlit pelatnas.
Jam 16.10 kami sampai di gerbang dan mmbayar biaya masuk 12ribu perorang. There 're something different when I last coming here. Sekarang sudah ada ikon bacaan Sukamantri, macem di tempat-tempat wisata lainnya. Tapi untung lah blum ada rumah pohon. Kalau udah ada rumah pohon, hadeuhh....
Pesen teh manis plus indomie telor sama ibu warung, cuci mulut dengan pisang. Hanamasa hokben warung teko,lewat dah nikmatnya sama ini. Setelah makan kami mulai mencari-cari pohon untuk memasang hammock. Beberapa saat berputar ke belakang kemudian kebawah kesamping ke atas tidak juga menemukan tempat karena kebetulan sedang ramai oleh para pengunjung yang kamping, akhirnya harus puas duduk2 saja menikmati Pemandangan kota bogor dari ketinggian.
Jam 17.30 kami meluncur pulang. Meskipun berupa turunan, tp karena berupa makadam, bukannya enak, tangan malah terasa kesemutan hingga harus beberapa kali berhenti buat senam tangan. Alhamdulillah jam 19.30 akhirnya tiba di rumah dengan total jarak 59 km. Trims buat bro Arif, meskipun gowes dadakan tetapi selalu siap tempur.

Sunday, 15 October 2017

Gowes Desa Malasari (TNGH) dengan Team Jarwo

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGH) wilayahnya meliputi 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak(Banten) Tidak heran pintu masuknya tersebar di beberapa titik, selain di Gunung Bunder, Cidahu dan Kabandungan, salah satunya terdapat pula di Desa Malasari.
Belum genap 1 bulan setelah gowes seorang diri ke Malasari, datang ajakan dari Om IP sebagai salah satu dedengkot Jarwo untuk kembali mengulang kembali trek Malasari, ditambah iming-iming melewati tanjakan keramat, membuat ajakan ini sulit ditolak apalagi dilewatkan. Kalau sebelumnya start dari Leuwiliang tetapi kali ininya startnya dari depan rumah. Kalau kata ABG sekarang mah, sesuatu bingittt. Kuat gak yah akoh?? Secara sudah hampir dua minggu nih vacuum gowes karena tugas luar kota, jadi otomatis kondisi fisik agak berbeda dari sebelumnya..huhu..semangattt.. !!
Tidak seperti biasanya, malam menjelang gowes saya bisa tidur nyenyak..hehe.. karena banyak orang yang mengalami kalau ada acara gowes bareng dan harus bangun pagi malah jadi sulit tidur, mungkin karena over exiciting kali ya..cemas atau bisa juga karena habis bertengkar sama pacar atau mantan...lho..lho..kok malah jadi curhat.
Cemas atau takut gak kuat jangan sampai muncul dipikiran kita sebagai pegowes. "You are what you think you are" begini nih kata kakek uyut iyit gw Sigmund Freud. Saat seseorang berpikir gak kuat, bisa jadi yang tadinya dia kuat menggowes menjadi tidak kuat alias lemah syahwat. Lhaaaaaa.....mending japri aja dah bro kalo lemah nyang itunya.
Sabtu 7 Oktober 2017 janjian dengan Arif di Billabong jam 05.30. Jam 05.45 dapat telp dari Arif bahwa dia sudah sampe di Billabong. Bujug dah, gw lagi asik makeup pan sontak ngelempar blas on dan maskara. Lima menit kemudian langsung ngibrittttt ke tempat Arif menunggu di komplek Billabong. Kaga nyangka Arif bisa datang melebihi prediksi gw yaitu pukul 06. Sampai di Billabong Arif senyam senyum menyambut kedatangan saya. Tapi sebenarnya tanpa perlu berkata-kata pun saya tahu yang kau pikirkan sebenarnya anak muda...haha...(Lamaaaaaa.....)
Di tempat terpisah Om IP dan Riza sudah sampai di Parung Kahuripan, tapi berhubung jalurnya sedikit berbeda kita janjian bertemu di Ciampea. Sekitar jam 06.30 start gowes dari Bilabong, Satu jam gowes kami sampai di Ciampea, tepatnya di depan RM Pare Sunda. Sambil menunggu Om IP, Riza dan Harlie dalam perjalanan dari Parung Kahuripan.
Saya dan Arif mengisi bahan bakar berupa semangkuk bubur ayam Cianjur. Untung saja bukan chief Juno yang mencicipi nih bubur, bakalan di bully kalo beneran dia yang nyobain. Dilalahnya yang cicip itu chief hans dan chief Arif dari Bojongkenyot, bagi mereka soal rasa nomer dua puluh dua, yang paling utama perut kenyang...haha..dalam beberapa saat saja semangkuk bubur dilahap habis tak tersisa. Setengah jam kemudian wajah wajah sumringah om IP dkk datang juga, ternyata ada miss komunikasi diantara kami karena mereka menyangka saya dan arif akan berkumpul di Parung Kahuripan sehingga mereka sempat menunggu nunggu saya dan Arif. Olaaah....
So, gowes kali ini terkumpul 5 personel yang akan berjuang menaklukan tanjakan keramat Desa Malasari. Lima personel kalo dalam novel mah udah kaya lima sekawan(The Famous Five) karangan Enid Blyton yang siap bertualang. Tapi sayang 5 sekawan nyang ini isinya sekong semua ..hihi..
Ngobrol ngalor ngidul, ternyata selain saya yang sempat break 2 minggu tidak gowes, ada juga Harlie yang katanya habis menjalani proses recovery selama tiga bulan setelah sebelumnya gowes bikecamp ke Cidahu. Tapi kalau menurut saya sih 3 bulan lebih mirip cuti melahirkan ya dibanding recovery. Yo wess lah..semoga lancar mas bro persalinannya..Laaahhh....
Menjelang pom bensin galuga tiba-tiba ada rider roadbike dengan sopannya menyalip kami. Bagi saya mungkin hal biasa karena saya seringnya memang disalip, jarang bisa menyalip..hihi..tapi tidak bagi Riza, punya power besar tapi tidak ada penyaluran ibarat orang yg libidonya lagi tinggi, kalo tidak disalurkan bisa membuat kegaduhan di dunia persepedahan. Dengan lewatnya road bike menjadikan ajang penyaluran hasrat biolobike bagi Riza, dengan sedikit provokasi sang Rider RB langsung ditempel ketat sampai mereka berdua hilang dari pandangan mata. Dijamin ngapp dah tuh rider di kintilin sama Riza. Rider RB berbelok ke arah karacak menuju pabangbon sedangkan kami lurus terus melewati pasar leuwiliang ke arah Cibeber.
Baru beberapa saat melewati pasar, om IP dan Riza udah tidak terlihat lagi jejak jejak ban sepedanya. Karena patokannya Cibeber, saya, Arif dan Harlie berbelok ke ke jalan raya Sadeng-Hambaro. Beberapa kilometer gowes tetap saja belum ada tanda-tanda dari dua sosok makhluk di depan. Sesaat kemudian om ip menelpon kalau mereka tidak berbelok...waduh..kumaha ieu...
Akhirnya saya menanyakan apakah mereka akan melewati jembatan leuwinanggung, ternyata mereka juga akan lewat sana juga tetapi dengan jalan berbeda dengan melalui jalan Tugu Antam(Jl.Ace Tabrani). Akhirnya kami janjian regroup kembali di Alfamart Leuwinanggung.
Melewati jalan Raya Sadeng-Hambaro relatif lebih sepi dibanding jika kita melewati tugu Antam yang merupakan jalur angkutan umum, sehingga rekomended sekali untuk pesepeda yang ke arah Malasari atau ke Pabangbon via Jl.Raya Antam melalui jalan ini.
Harlie yang baru recovery terlihat sangat berbeda dibanding saat gowes ke Cidahu,look like more powered that day, tapi kali ini menjadi slowly but not sure..hehe.. Tanjakan jalan Hambaro relatif nanjak halus, meskipun begitu kaki saya mulai merasakan agak sedikit nyeri saat menemui tanjakan yang lebih dari halus. Padahal baru 2 minggu dengkul tidak dipakai tetapi sangat terasa pengaruhnya terutama saat di tanjakan, apalagi Harlie yang selama 3 bulan tidak gowes. Tidak sampai karatan pun masih untung tuh dengkul.
Di Alfamart kami regroup sambil memenuhi kembali botol-botol minum yang telah kosong. Di tengah teriknya sorot matahari kami melanjutkan perjalanan kembali. Berapa banyak kami beristirhat? sepertinya tidak terhitung. Gowes nanjak tengah hari bolong membuat kami berkali-kali ber istri banyak...eh..beristri rahat. Sang marshal mister Riza sampai geleng-geleng kepala saking banyaknya waktu yang di sediakan untuk istirahat...yang sabar mister..kalo gowes level kampung emang kaya gini, lebih banyak ngendon diwarung dibanding gowesnya..hehe.. Sasaran kami selanjutnya adalah belokan jl gedong lb.cibeber, demikian petunjuk maps yang diberikan om Adi. Kalau jalur yang dikasih om Adi mah pasti bakalan cihuyyy treknya, sudah tak perlu diragukan lagi, sudah teruji dan terbukti.
Regroup di Alfamart
Berhubung sudah masuk waktu makan siang, om ip memberikan isyarat kepada mr.riza selaku marshal untuk berhenti jika ada warung nasi. Hingga akhirnya sampai di pertigaan jalan masuk gedong cibeber ada sebuah warung nasi, tetapi karena info intelejen di depan masih terdapat warung, terpaksa warung tersebut kita lewati. Tindakan yang mengakibatkan penyeselan di kemudian hari. Padahal informasi statusnya udah A1 loh..
Setelah masuk jalan Gedong Cibeber, tanjakan yang dihadapi semakin menjadi-jadi, di tambah perut sudah susah diajak kompromi, jadi mengganggu konsentrasi para personil gowes kali ini. Setelah berhenti beberapa kali mencari warung nasi tidak ketemu, menurut penuturan penduduk setempat warung nasi terakhir di jalan masuk jalan gedong cibeber tadi yang notabene kami sudah lewati. Oh em jiiii....Penyeselan memang tidak ada yang duluan ya, selalu aja belakangan. Hingga akhirnya sekitar pukul 13.00 kami menemui warung indomie. Depan warung terdapat mesjid, cucok dah untuk tempat isi perut yang udah kering kerontang.
Indomie Lover mencari cinta
Pukul 14.00 kami start kembali dengan di lepas oleh anak-anak kecil yang berteriak- teriak memanggil sepedaaa..sepedaaa...beberapa anak kadang mengajak toss dengan kami. Selepas melewati kampung, kami mulai menghadap medan berbukit dengan beberapa kali rolling dan tanjakan nya semakin edaannn...ternyata banyak tanjakan demitnya di daerah marih.hadeuhh....ampunn biyung.
Turunan cihuyyy
Tanjakannnya bikin mLehooyyy
Hanya Riza yang membabat habis semua tanjakan-tanjakan setan yang ada disini, 4 sekawan sisanya hanya bisa mendorong sambil berdoa semoga cepat sampai di tanjakan keramat. Karena tanjakan keramat merupakan tanjakan terakhir untuk mencapai gerbang TNGH. Setelah cukup lama gowes campur dorong, akhirnya kami tiba di Kantor Desa Malasari, artinya 1.5km lagi kami akan sampai di pintu gerbang TNGH. Tidak berapa lama kemudian Pak sekdes keluar dari kantor Desa, beliau sangat welcome atas kedatangan kami. Bahkan beliau mempersilakan kami menginap di kantor desa atau di rumah beliau jika kami memang memerlukan tempat menginap. Waaaww..patut di acungi 5 jempol buat pak sekdes atas hospitalitynya. Sayangnya saya lupa foto bareng pak sekdes. Cuma om IP yang yang sempat berfoto dengan beliau. Terimakasih pak sekdes atas rambutannya...eh..sambutannya.
Kantor Desa Malasari
Om Ip dan Pak Sekdes
Tanjakan keramat demikian sebutan yang diberikan oleh para pesepeda untuk tanjakan ini. Membentang sekitar 1,5Km berawal dari kantor Desa Malasari sampai pintu gerbang TNGH. Menurut pak sekdes, di tengah tanjakan terdapat kuburan yang dianggap keramat oleh penduduk setempat sehingga dinamakan tanjakan keramat. Setelah puas foto-foto, saya, Arif dan Harlie mulai icip-icip tanjakan , perlahan-lahan kami mengayuh pedal kami agar dapat marayap naik ke atas. Semakin ke atas ternyata sudut kemiringannya tajam. Di sebuah pos kamling kami istirahat mengambil nafas, tidak lama kemudian om IP menyusul bergabung. Hanya Riza yang mampu menggowes tanpa henti hingga gerbang TNGH. Salah satu contoh power of mind kaya begonoh ini.
Dengan di iringi hujan gerimis kami berempat mendorong dengan susah payah hingga pintu gerbang TNGH. Di sepanjang tanjakan keramat tersajikan salah satu menu wisata di desa ini yaitu sawah terasiring 1001 undak. Buat lo yang punya rencana liburan ke Bali hanya sekedar lihat Ubud, mending cepet-cepet lo cancel tiket lo,lo refund terus lo ambil duit lo dah buat ongkos kemarih. Gak usah jauh-jauh ke Bali, disini lebih indah, lebih keren, lebih ke kinian dan pemandangannya instagramable pake bangettt. Sawahnya benar-benar amazing, ekspektasi yang lo dapatkan bakalan melebihi apa yang lo bayangkan. Btw, ngomong-ngomong lo pernah ke Bali mas bro?? Haha...belum pernah juga sih om broh. Gubraakkk dah gua.
Kantor Desa dari atas Tanjakan Keramat
gowes ala-ala spanyol
Harlie sedang menghitung 1001 sawah terasiring
pantang menyerah menaklukan tanjakan keramat
Jam 16.00 lebih kami sampai di warung teteh TNGH. Hujan semakin deras, sambil menunggu reda kami memesan teh manis untuk menghangatkan perut. Teteh warung yang maniz dan ramah semakin membuat suasana semakin hangat. Seperti halnya dengan pak sekdes, teteh warung pun mempersilakan jika Ada yang ingin menginap bisa di teras warungnya. Salutt banget untuk hospitality orang-orang disini, memang seharusnya sikap seperti ini yang dimiliki oleh penduduk desa wisata dimanapun dan apapun jenis wisatanya jika ingin maju. Teman-teman ternyata lebih tertarik dengan tawaran teteh warung dibandingkan dengan tawaran pak sekdes. Hadeuhh....dasar kadal buntung lo pade....haha..
Gerbang TNGH
Jam 17.30 kami pulang dengan jalan berbeda yaitu melalui jalan desa wisata Malasari. Kalo kata marshal sih kita melewati jalur kandang ayam. jam setengah 7 masih disekitaran hutan, Riza mengalami kempes ban karena bocor membentur polisi tidur saat di perkampungan tadi. Besok besok mah polisi jangan tidur disitu lagi dah, mending suruh tidur di rumah pak sekdes aja. Tapi jangan tidur di warung si teteh gerbang, karena baru saja om IP kontak traveloka untuk booking selama 1 tahun ke depan. Eh..buseett..mau nambah lagi nih ceritanya, mentang-mentang disitu susah sinyal..hehe..
Bocor ban di hutan
Perjalanan kami ke bawah mendapat bantuan dari seorang pengendara motor yang baik hati, yang secara sukarela mengawal kami demi menerangi jalan yang akan kami lewati. Sesuatu hal sepele tetapi sedikit orang yang mau melakukan, besar manfaatnya bagi orang yang membutuhkan. Terimakasih om penunggang motor, kami tidak mengenal anda, kami tidak mencatat nama anda, tapi kebaikan anda insyallah akan dicatat oleh malaikat Raqib. Aminn.
Menjelang terminal leuwiliang kami mampir disebuah warung nasi goreng. Waktu menunjukan pukul 19.30, pantes aja perut sudah terasa kriukk..kriukk..
Di pertigaan Ranca Bungur kami terpecah dua, Om IP dan Riza melewati rancabungur menuju Parung Kahuripan, sedangkan saya beserta Arif dan Harlie melewati jalan Atang Sandjaya. Alhamdulliah, sampai di rumah jam 22.30 dengan total jarak tempuh 124 km. Trims buat team jarwo, next time kita explore kembali TNGH dengan rute yang lebih gila,lebih edann dan yang lebih menyeramkan tanjakannya. Mengutip kata-kata Ariel Peterpan: "kalian luar biasaaa..."
Reply, Reply All or Forward

10 Tanjakan Miring di Bogor

10 Tanjakan Miring di Bogor Nanjak kemana anda hari ini?? Bagi goweser yang tidak suka travelling tetapi hobbynya nanjak mungkin ini bisa...