Sunday, 28 August 2016

Gowes Prasasti Ciaruteun

Gowes Mukidi ke Prasasti Ciaruteun. Minggu tanggal 28 Agustus 2016 mengambil tema Mukidi yang sedang menjadi viral di social Media. Rute yang diambil yaitu Bojonggede-Rancabungur-Ps.Ciampea-Prasasti Ciaruteun- Desa Cidokom-Desa Gobang-Desa Mekar Jaya(Kp. Jengkol) -Desa Karehkel-Ps. Leuwiliang-Dramaga-Bubulak- Yasmin kemudian kembali ke Bojonggede. Berangkat dari rumah di kawasan Bojonggede pukul 09.24 dengan cuaca yang gelap cenderung akan turun hujan. Untuk jaga-jaga agar tidak basah kuyup di jalan maka jas hujan dibawa di backpack.
Untuk menuju Pasar Ciampea saya mengambil rute Diklat Aparatur Perhubungan, letaknya sebelum Parung Kahuripan jika dari arah Bogor. Jika dibandingkan Jalan Atang Sandjaya, rute ini relatif lebih sepi kendaraan bermotor jadi lebih bersahabat untuk peseda. Kalau dari bacaan alamat di rumah yang ada dijalan, nama daerahnya Kemang Udik. Jalannya masih banyak sawah dan ladang di kanan-kiri jalan, dan dipertengahan jalan ada perkebunan Kelapa sawit. Sampai di jalan ranca Bungur ambil ke kiri menuju pertigaan arah atang sandjaya dan Ps.ciampea. Sampai dipertigaan ambil ke kanan lngsung ketemu turunan sampai jembatan Cisadane disambut dengan tanjakan sampai pasar Ciampea. Sesaat sebelum Pasar langsung berbelok ke Kanan menuju ciaruteun. Beberapa Saat kemudian sampai di pertigaan yang terdapat petunjuk Prasasti Ciaruteun. Take Picture langsung berbelok turun sampai di jembatan dan di depan terlihat jalanan yang menanjak. Pelan-pelan berhasil di lalui tidak lama kemudian sampai di papan nama situs Ciaruteun. Jarak dari pertigaan papan petunjuk ternyata tidak begitu jauh yaitu sekitar 1 Km. Foto-foto sebentar lalu meneruskan perjalanan kembali.
Petunjuk arah Pusbang SDM Perhubungan
Danau depan Pusbang Perhubungan
Melewati Kebun sawit
Papan petunjuk arah Prasasti Ciaruteun
Jembatan setelah petunjuk arah Prasasti Ciaruteun
Lokasi Prasasti Ciaruteun
Target selanjutnya yaitu menjajal 2 tanjakan; Tanjakan Kebun Karet danTanjakan Jengkol. Sampai di jembatan Kali Cisadane ada sepeda yang sudah nongkrong terlebih dahulu. Setelah berkenalan, beliau ternyata Om Purnomo, gowes dari Bogor- Ciampea-leuwilliang via latihan Angkatan Darat kemudian masuk ke Karehkel, kebalikannya dari saya. Setelah cukup lama bercakap-cakap kami pun masing-masing melanjutkan Perjalanan kembali. Melintasi jembatan disambut tugu selamat datang di Desa Cidokom. Denger-denger di cidokom ini ada track buat DH, tapi gak tau di sebelah mana. Ketemu pertigaan ambil ke kiri ke arah Leuwiliang, kalau ke kanan ke arah rumpin lanjut ke Cisauk Tangerang. Ini merupakan Jl.Raya Gobang Rumpin, karena letaknya di Desa Gobang. Jalannya sangat cocok untuk rute sepeda karena relatif sepi dari kendaraan bermotor. Tidak lama kemudian target pun terlihat di depan, yaitu tanjakan Kebun Karet. Tanjakan ini tipenya mirip dengan tanjakan depan Rainbowhil, tetapi agak sedikit lebih pendek. Walaupun lebih pendek tapi tetap saja membuat nafas nubie ngos—ngosan. Di atas tanjakan berhenti dulu di tukang Cincau, langsung order 1 gelas es cingcau. Ngobrol ngalor-ngidul dengan si bapak cingcau, sambil sesekali saya melongo liat wajah si bapak saat dia berbicara. Karena dia berbicara almost full sundanese dan banyak kalimat-kalimat yang dia lontarkan yang vocab nya saya tidak mengerti. Masih menurut penjual cincau, Sabtu kemarin ramai oleh pesepeda dari Serpong ke arah Leuwiliang yang mampir membeli Cincau. Badannya besar-besar, tetapi ketika saya tanyakan tentara atau bukan,dia terus saja bercerita dengan bahasa yang semakin saya tidak mengerti. Hadeuh... Untuk para orangtua, di kebun karet ini menurut si bapak cingcau suka ada anak gadis yang teriak minta tolong, tapi bukan setan, melainkan karena perbuatan teman kencannya, so all parents must be take care their daughter. ya elah tong, lu pake bahasa inggris segala, bahasa Sunda aja lu kaga ngattrii..haha
eittt..jangan salah, gini-gini gw pernah di Leiden ngambil Magister Sastra Sunda lho. Emang ada di Leiden S2 Sastra Sunda??? Kagakkk...!!! GubraKkk!! Udah tau gak ada pake nanya lagi lo.
Setelah mebayar 2 gelas Cingcau, langsung cabut lagi. Kok 2 gelas?? iya karena saya tadi nambah denger cerita si bapak tentang anak gadis..hehe..Asik bener menikmati turunan sampai Jembatan kali Cisadane..tapi belum apa-apa sudah terlihat Tanjakan Jengkol, inilah tanjakan yang seperti diberitahukan om Purnomo tadi. Terletak di Kp. Jengkol jadilah kenapa ini disebut tanjakan Jengkol. Tanjakan ini masih saudaraan dengan Tanjakan Jengkol di belakang Patung Kuda...Mungkin ini adiknya, soalnya ini jengkol masih tergolong beweh alias jengkol muda. Bisa dilihat dari elevasi dan panjang tanjakannya. Kapan-kapan nanti dicoba dicari dimana emak bapaknya berada
Jembatan Cisadane
Tanjakan Kebun Karet
jalanan yang melewati depan TPA Galuga
Tanjakan Jengkol disini tidak separah tanjakan Jengkol Patung Gajah Tajur Halang, meskipun curam tetapi tidak membuat ban depan ajrut-ajrutan. Target ke dua sudah dilewati akhirnya sampai di perempatan; jika lurus menuju Ps. Leuwiliang atau belok kiri melewati pembuangan sampah Galuga sedangkan ke kanan ke Terminal Lwliang. Ditakutkan melewati pasar akan macet, maka saya memilih belok kiri melewati pembuangan sampah galuga, sedikit memotong tapi jalannya menanjak melewati bukit. Sekalian juga menjajal tanjakan ini, karena sebelum-sebelumnya selalu lewat pasar. Di tengah usaha mendaki bukit meski dengan perlahan-lahan aroma sampah busuk menggangu pernafasan. Ternyata saya salah mengambil keputusan, bau sampahnya membuat tidak nyaman dalam menggowes. Tidak rekomended untuk bersepeda melalui jalan ini. Kecuali dari arah sebaliknya, agak sedikit mendingan, bau sampah akan tercium saat turunan. Sampai di cibatok sekitar jam 1, mampir di warung Padang mengingat perut sudah bernyanyi sumbang. Sekitar jam 13.20 lanjut kembali dibawah panasnya terik matahari.
Hari ini cuacanya sangat tidak konsisten alias tidak karuan. Kadang gelap seakan mau turun hujan, panas terik, gerimis tetapi tidak hujan-hujan juga. Sampai di rumah sekitar jam 14.58 dengan total jarak tempuh 68 KM. Di tutup dengan Alhamdulillah.....

Saturday, 20 August 2016

Gowes Curug Kembar Ciberem

Gowes Curug Kembar Ciberem sebuah perjalanan antimainstrem demikian tema gowes kali ini. Sesuai dengan temanya, tempat yang dituju juga merupakan tempat wisata yang dapat di bilang anti these dari curug-curug yang sekarang banyak dikunjungi traveler domestik, terutama curug yang ada disekitar Sentul-Karang Tengah-Cibadak dan sekitarnya. Curug Barong, Curug Leuwihejo, Curug Kencana ataupun curug Bidadari mungkin sudah biasa, tetapi jikalau mendengar Curug Kembar mayoritas traveler akan mengerenyitkan dahi. Sambil bertanya: “ Emangnya ada?” “Dimana?” Terinspirasi oleh pertanyaan pemotor yang menimbulkan rasa penasaran saya dan tekad yang bulat sebulat tahu yang dijajakan di mobil, uhuyy-- untuk mengunjungi curug kembar. Sebagai orang tua yang gagah perkasa serta berwibawa tidak mau kalah dengan ABG-ABG galau yang pada kesana. Berawal pada Minggu lalu ketika pulang dari pasar sukamakmur ( tapi bukan Belanja ya Bu) saya beristirhat di warung pertigaan Cibadak, seorang pemotor bertanya kepada saya:
" Pak arah Curug Kembar kemana?? saya kemudian menunjukan arah lurus.
Kemudian dia bertanya lagi “ Masih jauh Pak?” “Saya juga belum kesana Mas!” :jawab Saya
Setelah mengucapkan terimakasih, Si mas pun pergi ke arah yang saya tunjukan.
Saya pun lantas beranjak pulang via Leuwihejo. Setelah itu saya jadi penasaran seperti apa wujud curug kembar sehingga banyak para pemuda pemudi bahkan tidak sedikit ABG Alay mengunjungi curug kembar.
Minggu 7 Agustus 2016 saya pun start dari rumah di kawasan bojonggede jam 10.05, sudah agak siang memang, tapi daripada tidak gowes sama sekali. Setelah mencari-cari senter SWAT tidak ketemu, apa boleh baut, cukup lampu kedap-kedip saja, karena di takutkan sampai rumah sudah gelap. Saya memilih rute Citeurep ke arah Sukamkmur, berhubung belum pernah mencoba ke Cibadak dari arah Citeurep, lebih sering sebaliknya. Sekitar jam 11.15 sudah sampai di Kebun Wisata Pasir Mukti. Tumben nih saya gowesan saya agak lumayan cepat. Berhenti di pinggir jalan untuk mendinginkan dengkul. Jam 11.30 lanjut kembali, tidak lama kemudian sampai di pertigaan arah ke Hambalang. Petunjuk arah Jonggol/Sukamakmur lurus terus. Jalan yang tadinya biasa-biasa saja mulai merubah menjadi rollling, meski tidak sekejam rolling Cibadak tetapi cukup membuas napas ngap-ngapan kaya ikan mas koki.
Istirahat di pinggir jalan
Jam 12 lewat di sebelah kanan mulai terlihat gunung pancar yang semakin besar, artinya tidak lama lagi saya akan sampai di pertigaan arah Cibadak. Panas yang semakin terik membuat saya harus mecari tempat istirahat untuk mengisi bensin. Berhenti warung kelapa muda, pesan 1 buah di tambah pisang goreng buat doping nanjak sampai SDN Cibadak, karena sebelum SD ada warung SOP IGA yang patut di coba. Sampai di warung Sop Iga sekitar jam 1, langsung saja pesan 1 porsi. Di warung sudh ada beberapa motorcross dan satu sepeda yang parkir. Setelah selesai makan saya pun berbincang dengan si Om sepeda. Si Om dari bekasi, rumahnya disekitar tol Timur dan sedang gowes ke arah Jonggol Via Pasar Sukamakmur-Cileungsi-Bekasi. Waww.. mantap bener si Om sendirian ngeloyornya jauh-jauh. Jam setengah 2 kami pun masing-masing melanjutkan perjalanan.
Pemandangan dijalur yang dilewati
Istirahat di warung kelapa
Masih nanjak aja
Sop iga Mang Engkus supaya dengkul kuat
Sampai di pertigaan Cibadak ada petunjuk arah Curug Kembar . Jalannya semen beton dan masih terlihat masih bagus. Jalannya menanjak halus dan sesekali dapat kejutan yang bikin jantung degup kencang. Tidak ku sangka tidak ku duga, ternyata arah curug kembar banyak tanjakan ajib nya juga. Istirahat di depan rumah orang, kebetulan ada pemuda yang lagi nganter cewe nya pulang . Setelah Cewe nya masuk, saya tanya ke pemuda nan ganteng ini.
“A curug Kembar masih jauh”: tanya saya
“Lumayan pak”:katanya sambil tangannya pegang kunci motor, kayanya dia mau cepet cepet ngacir
Langsung aja saya brondong pertanyaan lagi
"Nanjak terus sampai sana??” sambung saya
“iya pak, nanjak terus, tanjakan lebih-lebih dari yang ini” Kata dia
“nuhun nyak”
Dia pun langsung starter dan gaspol motornya, mungkin ketakutan sama emak nya si cewe, takut dimarahin karena mereka backstreet ( haha..sotoy banget deh kamu). Sudah ah jangan terlalu kepo, pusing nih mikirin tanjakan mau di apain. Dengkul langsung lemes dengar penjelasan si ganteng tanjakannnya lebih-lebih dari nyang ini. Saya ambil Hp untuk hidupkan gogel mep, dilalahnya sinyal XL tidak ada sama sekali. Lemes campur gemes sama XL,sisa jarak tempuh ke arah curug blenk sama sekali, seperti kata Eno lerian “katanya-katanya”. Bermodalkan kata orang di sepanjang jalan yang ditemui, this trip must go on, Go Back Crime.
Pertigaan Cibadak, ada petunjuk arahnya juga
Memasuki jalanan semen
Pemandangan sawah di jalur semen
Tanjakan pertama..
Tanjakan ke-2 sepedanya langsung tepar
Ternyata pemuda ganteng tadi tidak bohong, setelah melewati gardu ronda terlihat jalanan menurun kemudian naik tajam ke arah bukit. Absolutely Great!! But I’m not fear. Just Only Scare maybe..wkkk.. Benar-bener diluar mainstream nih rute. Berhubung perjalanan masih jauh...terpaksa deh di dorong, buat nyimpan tenaga pulang juga...haha alasan doank...modus.
Ketemu Pos ronda ini lurus aja, kalo belok kiri tar nyasar
Hadueh...liat yang kaya gini bikin perut mules
Lanjut gowes lagi ketemu Curug Mariuk, bertanya ke si bapak penjaga loket, curug kembar masih turun ke bawah. Turunan yang yang bikin was-was, karena ketika pulang pasti akan jadi kebalikannya. Selagi ada Gojek dan Grabjek tidak perlu kuatir, tinggal pesan online...tapi kalau sinyalnya juga gak dapat gimana mau pesan. Halahhh..kebanyakan mikir, gak bakalan sampe-sampe, langsung aja meluncur turun. Turunan yang lumayan curam dan cukup panjang juga, enak bercampur menyesal....halahh..mulai ngeres lagi nih pikiran. Setelah melewati tiga tanjakan yang pendek-pendek sampailah saya di pintu masuk curug kembar. Aduhh..gak nyangka bisa sampai juga, kirain nih jalan gak akan habis-habis.
Di depan Curug Mariuk
Menjelang pintu masuk curug kembar
Bayar tiket 15ribu langsung dipersilakan masuk oleh pak penjaga loket...Lanjut....
Akhirnya sampai juga..
Beli Karcis dulu
Depan loket jalannya batu-batu kapur campur batu kali untuk menguruk jalan aslinya yang berupa tanah. Karena berbatu bikin berat untuk di gowes, untunglah tidak sampai TTB, malu juga karena diliatan sama pengunjung yang jalan kaki. Setelah melewatin parkiran pertama, tanjakan curam menghadang berupa batu yang sudah dipadatkan dan sebagian tanah kering. Batu-batu ditambah kombinasi tanah yang licin mengakibatkan ban sepeda saya slip dan hanya bisa sampai di tengah tanjakan. Sampai diparkiran ke dua berupa tanah lapang yang cukup luas, sebagian motor hanya sampai disini untuk memarkirkan kendaraannya yang dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki bukit. Tetapi ada juga beberapa motor yang nekat karena sudah ahli, sampai di warung-warung bawah bukit. Bahkan ada motor piksen yang naik ke curug melewati bukit...saluttt dah. Mungkin tidak sampai tepi curug, karena katanya jalanan setapak berakhir setelah turun dari balik bukit kemudian berganti menjadi tangga-tangga menuju curug
.
Setelah lapangan treknya masih berupa tanah, ban slip berkali-kali. Setelah turun naik sepeda ditambah dorongan tenaga dan tekad yang kuat akhirnya saya sampai juga di atas bukit. Inilah tempat foto session kaum muda-muda, remaja dan emak-emak bapak-bapak yang mengunjungi tempat ini, bahkan ada juga balita, karena pemandangannya yang sangat wah...
Wah apa??Wah indahnya....
wah..indahnya
Treknya tanah, kalo habis hujan gak tau kaya gimana
Spot Area untuk foto session tepat di puncak bukit
Alamak...berat kali kau punya sepeda
Terus mana Curugnya??
Untuk melihatnya curugnya harus menuruni bukit dan turun tangga. Kayanya Edisi mandi-mandinya di skip dulu aja, berhubung hari sudah sore, jam menunjukan pukul 15.35 saya harus bergegas pulang untuk menghindari kemalaman di daerah karang tengah, berhubung saya tidak membawa lampu senter untuk penerangan. Setelah selesai foto-foto langsung saja cuss pulang,...
Gowes pulang tidak kalah beratnya saat berangkat, melewati karang tengah via leuwihejo merupakan perjuangan sampai titik gowes penghabisan. Apapun dilakoni untuk melewati setiap tanjakan, mulai dari dorong-dorong, angkat-angkat sampai panggul-panggul sepeda...apaann sih pak..lebay ah. Setelah capek beristigfar selama 2 jam, akhirnya sekitar jam 17.30 sampai di depan Sirkuit Sentul. Sampai di kandang roda isi premium dulu dengan siomay dan Kelapa Muda. Setelah itu di lanjutkan dengan menambah Oktan booster berupa bubur Kacang ijo di Keradenan. Alhamdulillah sekitar jam 19.00 sampai di rumah. Dengan Total jarak tempuh sejauh 73 Km ( berangkat 38 km dan pulang 35 km). Gowes anti mainstream kali ini benar-benar bikin perut kenyang, Subhanallah.

Tuesday, 15 March 2016

Gowes Sukamakmur Curug Ciherang

Sabtu, 5 Maret 2016 setelah sebelumnya dilakukan briefing dan rapat-rapat yang sangat intensif, dengan perdebatan yang sengit, dicetuskanlah rencana gowes kali ini ke Curug Ciherang. Peserta yang terkumpul kali ini berjumlah 1 orang, yaitu saya sendiri..hehe...
Rencana Gowes Demit-Curug Nangka-Koi-Gunung Bunder bersama Om Fajar yang batal karena beliau kurang fit, mengingatkan saya salah satu treat nanjak di daerah Sukamakmur yang cukup kesohor dan patut untuk dicoba, yaitu Tanjakan Tembok Curug Ciherang.
Sukamakmur merupakan rute alternatif menuju Kota Bunga/ Cipanas yang biasa dikenal sebagai jalur Puncak II. Jika dari arah Sentul City, melewati pertigaan Gn.Pancar lurus saja melewati depan Curug Leuwihejo sampai di pertigaan Cibadak belok kanan. Sedangkan kalau melalui Citeurep, masuk ke pasar Citeurep menuju Kebun Wisata Pasir Mukti, dari sini tinggal lurus saja ke arah Kota Bunga.
Berangkat dari rumah dikawasan Bojonggede jam 08.10, dengan membawa berbagai peralatan lenong mulai dari jas hujan, ban dalam, pompa, dan yang paling penting yaitu dompet isi lemper. Rute berangkatnya saya memilih jalur Sentul ke Cibadak via Leuwi Hejo. Rute ini lebih pendek dibandingkan jika kita melalui Pasar Citeurep. Karena sudah dua kali melewati jalur ini, agak sedikit terbantu juga untuk memainkan ritme kayuhan, karena sudah mulai mengetahui area-area tanjakan dan rolling-rolling yang perlu sentuhan permainan gigi. Sampai di jembatan kayu Karang Tengah, ternyata sudah berubah menjadi jembatan beton yang lumayan lebar. Turunan curam sebelumnya berlubang sudah di aspal mulus, jembatan lama yang dialasi balok-balok kayu masih terlihat di sisi kiri, karena perbandingan antara jembatan yang lama dan yang baru terlihat kontras, menjadi menarik untuk di abadikan.
View Gunung Pancar dari belakang
Menjelang belokan ke arah Gn.Pancar via Kawah Merah
Jembatan lama dan jembatan baru
Selpih dulu ah...
Setelah jembatan baru dilalui, langsung melahap tanjakan kelok, beruntung motor dan mobil volumenya sedang sedikit, sehingga berhasil dilalui dengan sukses sampai tempat foto session 2 ribu. Sampai di depan jalan masuk ke Curug Leuwihejo menunjukan pukul 11.20, pintu masuk menuju Curug Leuwihejo ternyata di portal dan pasang pemberitahuan kalau Curug Leuwihejo sedang di tutup untuk sementara waktu. Pantas saja, mobil dan motor ke arah Curug Leuwihejo tidak sebanyak biasanya jika Curug sedang di buka
.
Pemandangan disamping foto sesion 2ribu
ehmm........
Tidak lama kemudian sampailah di Jembatan Cileungsi. Beberapa tahun sebelumnya, jalanan ini pun berupa jembatan besi yang beralaskan balok-balok kayu. Sekarang sudah menjadi jembatan beton yang cukup lebar, tapi entah kenapa jembatannya berwarna kuning sama dengan jembatan kayu sebelumnya. Di sisi kanan jembatan ada kedai Kopi, tempatnya cukup rindang untuk beristirahat sejenak dengan pemandangan sungai Cileungsi yang sedang keruh dan debitnya sepertinya sedang naik. Pesan Indomie telor plus teh manis buat nambah tenaga nanjak sampai pertigaan Cibadak. Menurut Akang penjual Indomie, Curug Leuwihejo sedang di tutup lantaran debit air sedang tinggi, kemudian belum lama ini sekitar akhir Januari ada longsoran batu yang menimpa pengunjung curug. Untuk mencegah hal-hal yang di inginkan, sementara ini Leuwihejo ditutup sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Sebelum saya datang, menurut si akang, disini hujan. beruntung ketika hujan saya belum sampai kedai ini, dan ada 9 sepeda lewat sini menuju arah Cibadak. Kalau begitu saya adalah sepeda yang ke-10 yang lewat hari ini.hehe..
Warnanya sama kaya jembatan yang tadi..
Kalau melewati jembatan ini saya teringat ketika akhir 2010 saat saya pertama kali melewati jalan ini dengan mengendari motor Pulsar yang terkenal akan bobotnya yang berat pada saat itu, tanjakan curam dengam batu-batu besar lepas membuat tangan saya gemetar seperti orang tremor saking takutnya, very exiting. Berbeda dengan sekarang, jalannya sudah relatif bagus, hanya beberapa titik saja yang masih berlubang. Munculnya curug-curug seperti Leuwihejo,Barong, Putri Kencana,dkk berimbas membaiknya sarana dan prasarana jalan di daerah ini.
Setelah di bayar dengan tunai, langsung saya dikasih bonus sama si akang yaitu tanjakan sampai SDN 1 Cibadak. Indomie yang belum lama masuk perut langsung berubah menjadi mie kocok, karena perut terasa dikocok tidak karuan. Samping SDN 1 Cibadak ternyata ada kedai nasi yang ramai oleh Klub Motorcross. Untuk menu nasi kocok, mungkin lain kali saya sambangi warung motorcross ini.
Sampai pertigaan Cibadak, kalau ke kiri ke Citeurep, sedangkan ke kanan ke Cipanas/Kota Bunga. Saya ambil arah kanan ke Kota Bunga, cuaca mendung tiba-tiba berubah menjadi panas terik. Melewati kanan kiri persawahan semakin menambah sorot matahari, jalanan yang semula relatif datar berubah menjadi naik-turun. Tidak lama kemudian sampai di sebrang pasar Sukamakmur,jika lurus ke arah Jonggol, sedangkan kalau belok kanan ke arah Kota Bunga.
Pasar Sukamakmur
Baru beberapa saat gowes, ketemu jalanan yang hancur, tanah dan berlumpur berjarak beberapa ratus meter, motor-motor yang membonceng keluarga mau tidak mau harus turun jika tidak ingin jatuh konyol. Jalan naik-turun (rolling) terus dilewati sampailah di sebuah pertigaan dengan papan petunjuk ke arah kanan bahwa Curug Ciherang 4km, Curug Cipamingkis 4.8km. Sebuah papan yang memberikan harapan bahwa tujuan gowes kali ini tidak lama lagi akan sampai.
Jalannya hancur lebur lepas Pasar Sukamakmur
Jembatan Ciherang, warnanya kuning juga lho..
Sungai Ciherang
Mirip Gunung Pancar...
Ati-ati bang kecempLung kali
Aseekk...tinggal 4Km lagi..
Cuaca mendadak berubah menjadi gelap dan gerimis-germis kecil mulai jatuh. Gowes 4 km di iringi dengan hujan intensitas kecil dan sedang, cuaca gowes kali ini bisa dibilang cukup mendukung tapi tidak banyak membantu karena stamina sudah terkuras. Rolling-rolling tajam sepanjang 19km mulai dari belokan ke Gunung Pancar via Kawah Merah sampai papan nama ini, membuat menu nanjak utama ini sangat berat dilalui. Catatan waktu sudah tidak diperhitungkan, yang difokuskan lebih kepada ritme kayuhan, kalau orang jawa bilang slowly but sure. Tidak berapa lama kabut mulai menyelimuti kanan kiri jalan dengan dibarengi hujan sedang. Saya nyalakan lampu belakang dan lampu depan sebagai tanda bagi kendaraan bermotor yang lain biar tidak colak-colek. Setelah menanti agak lama, sampailah saya di tanjakan tembok. Tanjakan yang di nanti-nanti setiap goweser jika menuju kota bunga. Tanjakan yang cukup panjang dengan sudut kemiringan yang cukup lumayan. Dinamakan tanjakan tembok karena di sisi kiri jalannya membentang tembok dengan ketinggian sekitar 2 meter.
Kabutnya banyak bener
Mulai memasuki tanjakan tembok
Tanjakan tembok
Iklan dulu..
Mungkin kalau di tanjakan ini banyak yang jualan Batagor atau Siomay, bisa jadi namanya tanjakan ketoprak...haha..kagak nyambung kelessss
Sehabis menu tanjakan tembok, ternyata belum selesai, masih terlihat tanjakan ke kanan terus berbelok lurus. Istirahat sejenak diwarung pinggir jalan, tetapi karena warungnya tutup hanya bisa rebahan sambil meluruskan pikiran yang bengkok-bengkok. Lanjut gowes dengan dengan perlahan, 2 tanjakan terlewat sampailah diujung tanjakan dan terlihat tanda panah ke kanan bertuliskan Curug Ciherang. Waktu menunjukan pukul 16.25, benar-benar bukan catatan waktu yang bagus. Mampir di warung memesan teh manis panas. Bersepeda di kawasan pegunungan yang berkabut di temani segelas teh manis panas sungguh suatu nikmat tersendiri. Dipapan nama tertulis petunjuk Curug Ciherang 600m, sedangkan petunjuk dari Disbudpar tertulis 800m. Pemerintahan kita memang keterlaluan ya, jarak tempuh ke Curug saja sampai di mark up, dari 600m ke 800m ..hehe..
Papan petunjuk Kota Bunga 15Km lagi
Jalan menuju Kota Bunga
My pufy..
600m vs 800m
Jalan ke arah Curug Ciherang
Karena waktu sudah sore, saya tidak masuk ke Curug Ciherang, jadi jarak menuju Curug masih menjadi tanda tanya bagi saya, 600m kah? 800m? Jarak tempuh sudah sekitar 46km.
Pulang melewati jalan yang sama, tetapi tidak melalui Cibadak Leuwihejo, melainkan lurus melalui pasar Citeurep. Saya pertimbangan untuk menghindari rolling di Cibadak Karang Tengah yang pasti akan berat di saat stamina sudah kendur. Perjalanan sampai Pasir Mukti masih di suguhi dengan selingan tanjakan-tanjakan kecil yang bikin gemes. Track ke Sukamakmur ini sangat berbeda dengan kita nanjak ke Warung Mang Ade dari Bogor. Jika kita nanjak ke Mang Ade, pulangnya akan di suguhi full turunan sampai Jambu 2 Kota Bogor. Akan tetapi kalau ke Sukamakmur, pulangnya kita dihadapi dengan tanjakan-tanjakan yang hampir sama saat kita berangkat. Mirip-mirip jika kita gowes dari Bogor ke Ciboleger(Baduy) Banten, pulang pergi kita akan dihadapkan menu rolling . Tetapi menurut saya tanjakan dan rolling Sukamakmur lebih juara.
Sampai di rumah sekitar pukul 21.00 lebih banyak, total jarak tempuh sekitar 94 km dengan membawa oleh-oleh nasi Padang untuk makan malam.. Terimaksih ya rabb....

GOWES CIORAY-SUKAMAKMUR

CIORAY-SUKAMAKMUR Senin 28 Pebuari 2022 bertepatan dengan hari libur Isra Miraj gowes dengan tujuan Cioray Sukamakmur. Setelah membaca berit...