Sunday, 13 August 2017

Gowes Hambalang-Kampung Baru-Anaconda Bersama Team Jarwo

Gowes Desa Hambalang Anaconda merupakan salah satu trek yang cocok untuk habitat para penunggang MTB. Karena selain on road treknya juga terdapat jalur off road saat kita sampai di jalur anaconda. Berawal dari permintaan Om Ahwie untuk ditemani gowes ke Desa Hambalang kemudian beberapa teman di group Jarwo ternyata tertarik untuk ikut serta menjajal trek legendaris ini.
Minggu 6 Agustus 2017 janjian tikum di Sirkuit Sentul pukul 07.00. Sekitar jam 06.45 om Ahwie tiba lebih dulu di Sirkuit. Meskipun beliau gowes langsung dari rumah di kawasan Cibubur ternyata beliau lebih dulu sampai dari saya yang terbilang tidak begitu jauh dari Sentul. Sekitar jam 07.00 saya sampai di sirkuit dengan perut yang sudah kenyang terisi nasi uduk saat melewati kandang roda. Tidak lama kemudian muncul Arif, Om Pardi, Om Asep, Om Zaenal, Si Mbah dan terakhir Om Ahwie yang sudah sampai sejak dari tadi tetapi penampakannya belakangan. Terakhir kami masih menunggu Habsy yang memberi kabar kalau posisinya masih di Pemda. Jam setengah 8 dengan nafas tersengal-sengal habsy muncul dengan wajah super imutnya. Sejenak kami memberikan kesempatan untuk hasby menikmati nafas sepuasnya sebelum menghadapi tanjakan-tanjakan hambalang yang membuat kita sulit untuk mengambil nafas.
Delapan goweser dengan Om Asep selaku Marshal merangkap RC dan Sweeper langsung melesat cepat masuk ke dalam sirkuit, saking semangatnya beliau sampai salah jalan ke arah dalam sirkuit sentul yang saat itu sedang ramai oleh mobil-mobil yang akan racing. Untung saja bapak security dengan sigap menghadang om Asep. Semangat beliau yang masih menggebu-gebu membuat kita tidak sia-sia mendaulat beliau sebagai sebagai Marshall kali ini. Melewati Palm Hill Golf beliau mulai mengeluarkan senjata andalannya, kamera nixon. Mantap kali marshall kita kali ini, ternyata selain gowes beliau juga hoby fotografi. Gosip yang beredar di Lambe lurah, Lambe Camat, Lambe nnyinyir dan lambe-lambe lainnya, beliau ini mantan fotografer majalah Kuncung..hehe..top bingitt kan..
Sampai di depan kantor Tagana kita foto-foto prewed dulu macem Raisah vs Hamidnudin sebelum menghadapi tanjakan super edan. Karena mulai dari ini tanjakannya gak ada berhentinya sampai Kantor Desa Hambalang. Meskipun jaraknya tidak jauh tetapi bikin nafas tersengal-sengal dan mata merem melek saking enaknya nih tanjakan. Menjelang finish tanjakan depan mesjid Al-falah, si Mbah terlihat menuntun peliharaannya karena sudah ngambek tidak mau dinaiki lagi. Jam 9 kurang kita sampai di warung teteh hambalang kemudian memesan beberapa gelas teh manis. Di warung teteh juga sudah berkumpul juga beberapa personil dari grup Romli seperti om niman, om wito, pak Yono dll yang sudah lebih dulu sampai.
Setelah menghabiskan teh manis kami melanjutkan kembali menuju Kampung Baru Desa Hambalang. Kampung Baru merupakan kampung yang terletak di paling atas desa Hambalang. Dari warung Teteh ke arah Sentul kami belok kiri disamping mesjid kecil mengikuti jalur semen yang samakin di ikuti semakin miring jalanannya. Saking miringnya kaki Arif sampai kram hingga harus turun menuntun sepeda. Tetapi thumb up buat Arif, this is the first time he’s Uphill tapi dia udah bisa nanjak setinggi ini. Hebattt!! Di tambah usia baru 20an dijamin power bakalan terus menerus ngisi jika rutin latihan nanjak. Berhenti sejenak mendinginkan dengkul Arif yang sepertinya tadi mengalami overheat. Menurut Arif, setiap hari dia bike to work Bojonggede-Cilandak pp dengan jarak sekitar 50 km. Wowww.. pantes aja, ini baru pertama kali, apalagi nanti ke dua..ketiga..ke empat..lama-lama kaya saskia gothik..lol.
Tanjakan ke kampung baru emang bener-bener ajib, om Asep sebagai kuncen hambalang pun kesulitan untuk menaklukan tanjakan yang satu ini. Di depan rumah-rumah penduduk kami semua bergelimpangan di jalan seperti ragi tape yang sedang di jemur, baunya udah kaga karuan. Kebetulan beberapa ratus meter dari kampung ini memang ada home industry pembuatan ragi, jika kita lewat persis di depannya tercium bau-bau asam yang kecut. Tiba-tiba om Zaenal panik mencari-cari si Mbah yang hilang dari pandangan mata, namun si Mbah tiba-tiba muncul dengan seplastik pisang goreng yang dibeli dari warung penduduk sekitar yang sudah dingin, walaupun rasanya sudah tidak karuan tetapi niat beliau untuk membantu perekonomian masyarakat sekitar patut untuk di acungi jempol untuk si Mbah. Antara niat tulus, pencitraan dan modus ternyata memang beda-beda tipis ya..hehe
Kata siapa ban 29” berat di tanjakan, itu mah dengkul lo aja kali broh yang kaga pernah di setup. Om Ahwie dengan Polygon 29” semakin gak terbendung mulai dari Palm hill, Tagana sampai Kampung Baru. Teori roda 29” yang lebih berat saat melalui tanjakan tidak berlaku bagi om Ahwie. Dengan spesifikasi dengkul keluaran terbaru dan betis made in Sidoardjo yang langsung di pasok oleh pabriknya, beliau dengan lahapnya menghabiskan tanjakan-demi tanjakan yang ada. Ternyata teori Roda 29” berat di tanjakan bisa dipatahkan jika kondisi dengkul seseorang sudah mencapai suatu tingkat kekuatan tertentu. Tesisnya berat gowes itu berbanding lurus dengan kondisi dengkul seseorang. Hadeuh...makin ngaco aja nih tulisan. Dari kampung baru kami turun kemudian belok kiri ke jalur offrot, meliuk-liuk melewati ilalang dan ladang-ladang penduduk. Lagi-lagi ini adalah menu santapan om Ahwie yang sedari kecil udah biasa main DH di KTH dan Cihideung. Kalau saya kecilnya main gundu atau layangan, tetapi om satu ini kecilnya aja udah hoby main downhill. Tidak heran baru sebentar aja udah menghilang dari laporan pandangan mata. Berbeda saat menuju kampung Baru, kali ini raut wajah teman-teman terlihat ceria melihat turunan yang tersaji di depan mata. Kaki Arif yang tadinya kram langsung sembuh karena melihat turunan. Muka hasby yang kalau orang betawi bilang "muka nyolot" saat nanjak mendadak berubah menjadi lucu dan imrutt bin gemesssin.. Sedangkan Om Zaenal tetap dengan tugasnya selalu setia mengawal si Mbah di segala medan. Om Pardi pun sudah tak terlihat rimbanya.
Tiba di Jalur Anaconda masing-masing personil sibuk dengan kameree ponsel masing-masing, sedangkan om Asep masih dengan sisa-sisa naluri fotografernya mengeluarkan Nixon DSLR, keren banget dah om Asep udah kaya Roby Darwis.... eh salah...Darwis Triadi.
Hari ini jalur anaconda sedikit lebih ramai dari biasanya karena ada acara berburu babi yang dilakukan oleh sekelompok orang, ada juga club mobil Offroad dan motor trail yang berlalu lalang. Bahkan sempat berpapasan dengan seorang bule yang sedang lari cross country. Baru beberapa ratus meter menikmati turunan Anaconda anting RD Habsy tiba-tiba patah tetapi beruntung Om Pardi membawa tools lengkap. Om Pardi langsung menyulap sepeda Hasby menjadi onespeed, sebuah pilihan yang berat memang tetapi harus dilalukan. Jalur Anaconda ke arah Jungle Land kita lalui dengan gowes campur dorong karena jalurnya memang ada yang disable buat di gowes. Sampai sungai di belakang jungle land sepeda-sepeda langsung pada nyebur karena kepanasan. Habis mandi, udah seger lanjut lagi melewati babakan madang hingga di depan hotel Harris Sentul Om Pardi memberikan kode untuk berbelok ke arah Az-zikra untuk melewati trek kebun singkong sampai tembus di samping pintu tol sirkuit Sentul. Berhubung tengah hari sudah lewat kami makan siang dahulu di sebuah warung makan rekomendasi Om Pardi. Rekomendasi yang oks bangett..
Om Zaenal dan Si Mbah sudah pamit duluan saat kami masih asik makan dengan alasan tidak kuat menahan godaan makhluk-makhluk yang singgah di rumah makan ini.huhehe...Modus aja nih makhluk dua...bilang aja takut disuruh bayarin semuanya. Lanjut mlipir melewati jalur pinggir tol. Kali ini roda 29” pun ngacir lebih dahulu dari yang lain. Setelah di selik kidik lebih mendalam ternyata eh ternyiti yang punya sepeda perutnya mules-mules akibat kebanyakan makan sambel setan, ridernya pun jadi ugal-ugalan macem bus puncak nyang kaga ada remnya, om telolettt om....eh toilet..hueheh..sukses om semoga ketemu ya...!!
Di kolong tol Citereup om Asep belok kanan sedangkan kami ke kiri ke arah komplek LIPI melewati kampung-kampung. Kalau zaman Majapahit mirip banget cerita Desa Warnana karya Mpu Prapanca, bedanya mereka jalan kaki atau naik kuda sedangkan kami naik sepeda..haha.kaga nyambung broh perumpamaan eloh!! Depan CCM om Ahwie lurus menuju cibubur, hati-hati om see you in next trips. Saya, arif, Hasby dan Om Pardi belok kiri ke arah Pemda kemudian berpisah di pertigaan bambu kuning untuk melanjutkan pulang ke rumah masing-masing. Not Increadible hulk, but this is increadible biking. Tidak masalah berapa jarak yang sudah di tempuh tetapi kebersaman dan keceriaan its a moment that you'll never to forget it.
Alhamdullillah....pukul 16.00 sudah tiba di rumah.
Thanks to Jarwo Team and om Asep as chief of Marshall and om Pardi as deputy Marshall

Sunday, 16 April 2017

Gowes Gua Garunggang

Sabtu 1 April 2017 gowes kolaborasi ke Gua Garunggang bersama dengan Group Romli dan Nature. Romli yang di gawangi om Abet dan Nature yang di komandani oleh om Jauzi berkolaborasi menuju goa Garunggang. Marshal kali ini adalah Om Wotto karena beliau lah yang mengetahui jalur Goa Garunggang via jalur Anaconda. Kenapa tidak dipilih rute babakan Madang? Karena mayoritas suara perpendapat berangkat via babakan madang terlalu biasa. Kalau ada jalur yang luar biasa, kenapa juga memilih yang biasa?? Haha..somse bener da ah...
Berangkat dari rumah jam 05.45 menuju titik kumpul di depan Cibinong City Mall (CCM), di lampu merah Mc D bertemu dengan dengan Om Abet. Sampai di depan CCM jam 06.20 ternyata kami berdua yang sampai paling dulu. Tidak lama kemudian om Irwan datang dengan membawa 2 orang teman dari Gober Depok. Karena sudah tidak ada yang d tunggu kami berangkat menuju titik kumpul ke 2 yaitu rumah makan Bambu Haur Jl.Alternatif Sentul. Di Lampu merah Sentul bertemu dengan Om Idham beserta rombongan Gowespurnya, mereka rencana menuju Km.0. Sampai di bambu haur langsung sarapan lontong dan nasi Uduk..ditambah bala-bala..benar2 sebuah kolaborasi yang pas. Perut kenyang, gowespun riang. Disini sudah berkumpul sekitar 19 pegowes tangguh dari seantero negeri, mulai dari Sentul, Citereup, Gn.Putri, Beiji, Ciyatam hingga Bojonggede. Setelah membuat perhitungan dengan teteh warung, Om Abet langsung memberikan komando untuk bergerak. Om Wotto langsung melesat diikuti oleh peserta gowes yang lain langsung mendesak ke arah dalam sirkuit Sentul. Berhubung kemarin jumat cerah, jalanan Palm Hill Golf bebas lumpur sehingga nyam nyam untuk di gowes. Naik menuju jalan masuk Anaconda, berhenti di warung mengisi botol-botol air mineral yang kosong untuk cadangan dijalan, karena ditakutkan nanti tidak ketemu warung yang buka.
Tidak lama kemudian jalan aspalnya habis berubah menjadi tanah dan batu-batu gravel. Nanjak di jalur tanah butuh keseimbangan, karena hilang konsentrasi gowesan akan menyamping kemudian terperosok ke dalam cekungan tanah yang dalam. Meskipun mayoritas berhasil tetapi ada bebrapa yang tidak lolos karena gowesnya menyamping sehingga masuk ke cekungan, termasuk saya..hehe.. Beberapa kali rolling akhirnya ketemu warung juga. Menurut si bapak, warung ini bukanya hanya sabtu dan minggu saja, karena hanya hari tersebut saja biasanya Motorcross, pesepeda dan Orang bule melintas di sini. Orang Bule biasanya berjalan kaki jika lewat sini. Setelah makan beberapa pisang dan kue perbekalan yang dibawa, langsung lanjut kembali. Hari ini beruntung cuaca mendung, sehingga panasnya tidak menyengat. Beruntung juga tidak hujan, kalau sampai hujan siap siap menikmati penderitaan. Rolling-rolling masih dilalui sampai bertemu dengan warung ke 2. Merupakan warung terakhir di tanah tandus ini. Bertemu warung kembali nanti di daerah Cibadak. Tetapi jika menuju Garungang, sebelum Cibadak kita sudah belok kanan terlebih dahulu.
Om Wotto memimpin kembali di depan, kemudian belok kanan menaiki perbukitan. Sampai di atas bukit jalanannya habis dan berganti menjadi cekungan tanah. Sepeda harus di gotong melewati cekungan tanah yang curam. Luar biasa trek kali ini, kok bisa bisanya tau ada jalan seperti ini tembus ke garunggang. Di tempat cekungan tanah ternyata sudah menunggu para cady pembawa sepeda berjumlah 5 orang. Mereka sengaja standby dititik tersebut guna membantu para goweser atau crosser-crosser yang butuh bantuan tenaga mereka. Dengan sigap dan cekatan mereka serta merta mengangkat sepeda tanpa sedikit pun takut tergelincir. Bisa karena terbiasa, learning by doing. Sehabis melewati cekungan, prosesi dorong-dorong sepeda masih berlanjut dikarenakan treknya yang super miring, its not biking but its can be called hiking...Sayang gak bawa tenda, andaikan bawa tenda tambah Camping. Sampai di atas, perbekalan makanan di buka kembali. Baru kali ini saya rasakan gowes tanpa ada rasa lapar karena begitu banyaknya ransum makanan yang dibawa. Perut yang kenyang ditambah candaan Bang Is dan Om Roma yang tiada henti semakin membuat acara gowes ini semakin ceria meskipun harus dorong-dorong sepeda. Sekitar jam 11 siang kami sampai di Gua Agung Garunggang, Bang Is dan Om Singapor langsung memesan teteh manis ke penjaga warung. Perbekalan makanan dikeluarkan kembali dengan ditemani teteh yang manis-manis. Sungguh kolaborasi yang benar-benar pas.
Selepas Zuhur kami beranjak pulang melalui jalur babakan madang dengan trek mayoritas turunan sampai dengan sirkuit Sentul. Dibabakan Madang berhenti dulu menunaikan sholat Zuhur. Hujan tiba-tiba turun dengan Cukup deras. Sukurlah sudah lepas dari trek anaconda, andaikan hujan saat di trek anaconda sudah terbayang penderitaan yang bakal dihadapi. Sekitar jam 13.00 karena hujan sudah reda lanjut gowes kembali, didepan pintu tol sirkuit berhenti dulu makan bakso di traktir om Jauzi..hehe..mayan rezeki anak si soleh. Setelah itu kami satu persatu mulai berpisah, Sampai di rumah sekitar pukul 15 dengan jarak tempuh 52 km. Trims buat Romli dan Nature untuk gobar kali ini. Alhamdulillah, kompak selalu.....

Sunday, 26 March 2017

Gowes Danau Quarry "Jayamix"

Gowes siang bolong menuju Danau Quarry. Danau Quarry terletak di kampung Nunggaherang Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Bogor. Merupakan danau yang terbentuk dari hasil galian tambang PT.Jayamix sehingga banyak yang menyebut sebagai danau Jayamix. Tempat ini sudah cukup lama nge-hits sebagai tempat untuk di unggah di medsos. Berhubung jarang main medsos jadi agak telat mendapat informasi kekinian.
Sabtu tanggal 11 Maret start dari rumah jam 12.30, dengan mengikuti rute googlemap yang tercepat sekitar 32 Km via Parung Kahuripan dengan mode berjalan. Depan Pom Bensin sebelum perumahan parung kahuripan diperintahkan belok kiri oleh Mbak google(karena suara cewek), tidak lama kemudian sampailah di danau Parung Kahuripan, kemudian di perintahkan belok kanan. Lama-lama sewot juga sama si Mbak, tidak ada belokan ke kanan tapi di perintahkan belok,masa saya harus berenang bawa2 sepeda. Dengan sedikit nahan emosi saya putar balik, tanya penduduk sekitar akhirnya sampai juga di dalam parung kahuripan. Setelah melewati danau, tak lama kemudian sampai di depan sekolah Madania, diperintahkan belok kanan setelah sekolah. Tetapi dalam kenyataannya tidak ada jalan sama sekali karena itu merupakan kantor pemerintahan. Emosi dua kali sama si Mbak google karena di PHP in terus, mending ikut katakan putus dah kalo gini. Jam 14 lebih masih berputar-putar di parung kahuripan, akhirnya kesabaran ada batasnya, saya matikan google map dan saya memeilih rute seperti yang biasanya saja. Kalau saya ikutin mbak google terus bisa-bisa lebaran Idul Fitri saya baru sampe.
Di pertigaan rumpin bertanya kembali bertanya kepada pemuda-pemudi disana kemana arah danau Jayamix, diberitahu untuk belok kanan melewati gunung munara setelah itu belok kiri. Jaraknya mereka tidak bisa memperkirakan tetapi berdasarkan keterangan mereka masih cukup jauh. Beberapa puluh menit kemudian sampai di papan nama Gunung Munara. Masih lurus terus melewati polsek rumpin kemudian sampai di pertigaan. Bertanya kembali kepada anak-anak yang sedang main, diberitahukan untuk belok kiri. Jalan beton lambat laun berubah menjadi kubangan lumpur. Sampai-sampai sepeda saya gotong-gotong ke tepi jalan guna menghindari kubangan lumpur. Di pertigaan bertanya kembali ke penjual gorengan, diarahkan untuk belok kiri. Tidak berapa lama kemudian sampai di pertigaan kembali bertanya kepada seorang ibu arah danau Jayamix. Kubangan lumpurnya sudah tidak terlihat digantikan jalan berbatu. Sampai di pertigaan lagi, bertanya lagi kepada pemuda disana, untuk lurus saja. Di depan sebuah pabrik ada pertigaan saya belok kiri, kemudian bertanya kembali kepada bapak yang sedang berjalan, ternyata saya salah belok, harusnya mengambil kanan lurus. Putar arah lagi langsung ketemu warung kosong istirahat. Kayanya cape kali ini bukan cape gowes, tapi cape bertanya. Karena tidak ada papan petunjuk sama sekali untuk menuju danau jayamix, jadi kuncinya adalah bertanya kepada penduduk jika kita menemukan pertigaan. Danau Quarry atau Jayamix pasti mereka akan tahu, kakek nenek, encang-encing, enyak babe, pasti pada tau.
Setelah melihat danau Quarry, capeknya mendadak langsung hilang. Melihat danau Quarry dari atas kita serasa seperti bukan berada di Bogor, tapi di rumpin..hhehe..sarua keneh eta mah sujang. Setelah puas foto-foto dari atas, its time to hilldown to the quarry lake. Downhill kalee..
Lewatin pos satpam langsung tiba di warung pinggir danau. Numpang duduk-duduk diwarung sambil pesan indomie telor. Kemudian seorang bapak ikut duduk diwarung menemani ngobrol. Menurutnya hari ini sedang sepi, biasanya minggu jika tidak hujan ramai, bahkan kadang ada yang camping juga. Kirain saya beliau mau menagih tiket masuk, ternyata ngajak ngobrol. Karena saat saya masuk tadi di pos atas, penjaganya tidak meminta tiket masuk..lumayan lah kalo gitu..hehe... Kemudian saya bertanya mengenai papan petunjuk kepada si bapak. Beliau menjelaskan bahwa sebenarnya pernah diberikan papan petunjuk di setiap pertigaan, tetapi papannya di cabut oleh oknum-oknum yang menurutnya iri jika danau ini menjadi ramai. Sangat disayangkan memang jika ini benar adanya, padahal dengan adanya Danau Quarry bisa meningkatkan pendapatan penduduk lokal disekitar danau. Bahkan penduduk yang dilalui akses jalannya oleh wisatawan lokal pun bisa terangkat perekonomiannya. Tidak terasa indomie telor sudah habis disantap, pamit ke sibapak untuk foto-foto di pinggir danau sebelum pulang.
Setelah puas memandangi Jayamix, jam 17. langsung tancap pulang. Di daerah putat nutug, tiba-tiba turun hujan deras, sekalian nyari pangkalan nasi buat makan malam sambil menunggu hujan reda. Tiba di rumah sekitar pukul 20 dengan jarak tempuh 73 km. Alhamdulilah ya rabb......

Sunday, 19 February 2017

Gowes Nanjak Cianten

Gowes Pilkada-2 nanjak ke kebun teh Cianten. Sabtu 18 Februari 2017 mulai start pukul 09.05 dengan di dukung cuaca yang mendung. Setelah beberapa hari rutin di sambangi oleh hujan yang tiada henti, hari ini agak sedikit lebih baik karena belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Sampai di Pertigaan Karacak Leuwiliang sekitar pukul 11.00, sesuai dengan perkiraan. Meskipun sudah terbilang siang tetapi tidak ada sinar matahari yang muncul sehingga terasa gowes di pagi hari. Mantap pisan. Jarak ke kebun teh cianten dari pertigaan karacak sekitar 27 km, dengan formasi 20 km on road dan 7 km off road.
Sekitar Pukul 13.00 lebih sampai di Desa Puraseda, berhenti dulu untuk makan siang di sebuah warung Padang. Ini merupakan warung Padang terakhir, selain itu juga terdapat Indomaret. Tetapi tidak perlu kuatir, setelah ini di sepanjang jalan banyak terdapat warung-warung warga lokal yang menjual sembako dan minuman ringan. Pukul 14.30 lanjut kembali gowes, konturnya agak mulai berubah dari tanjakan halus menjadi tanjakan halusinasi..hihi. Setelah kurang lebih 3 km ketemu spot selfi, beberapa muda-mudi dan keluarga tampak sedang berfoto, karena imron gak kuat akhirnya tergoda juga untuk mampir...hehe. Jarak 2 km dari lapangan pertama ini terdapat lapangan ke dua yang juga merupakan spot selfi.
Jarak 4 km sebelum perbatasan kebun teh jalanan aspal digantikan oleh jalan berbatu-batu khas jalanan hutan TNGH. Jam 14.00 sampai pinggir hutan, mampir dulu di sebuah Mesjid. Subhanallah, meskipun dipinggir hutan masih terdapat masjid, letaknya di bawah jalan dengan air yang jernih dan melimpah. Setelah shalat dan rebahan sejenak pukul 14.30 lanjut kembali. Tak berapa lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi batu-batu jalan sehingga semakin mempersulit gowesan, beberapa kali ban slip karena batu-batu besar yang basah menjadi licin.
Aspalnya habis berganti jalan batu
Mulai masuk kawasan hutan
Sekitar pukul 15.30 sampai juga perbatasan dimana terdapat papan nama kebun teh Cianten yang menunjukan kalau kita mulai memasuki kawasan kebun teh Cianten. Jarak ke kantor induk perkebunan teh sekitar 3 km lagi dengan kondisi jalan berbatu.
Papan nama Cianten
Lanjut gowes lagi terus selfi lagi.haha...
Akhirnya nemu juga warung yang enak buat rebahan...pesen indomie telor plus teh manis. Tak lama kemudian indomie dan pesanan tehnya pun datang, menurut si ibu, teh ini merupakan asli Cianten. Warnanya sangat merah, biasanya kalau di rumah saya warna terlalu merah membuat teh menjadi pahit, tetapi untuk kali ini rasanya bener-bener nikmat, rasa teh cianten. Tidak terasa sudah menunjukan pukul 16.20, untuk ke kantor induk perkebunan teh Cianten sebenarnya sudah tidak terlalu jauh, tinggal turun melalui jembatan kemudian nanjak sedikit akan terlihat pos dan portal yang tidak jauh dari kantor induk. Tetapi berhubung hari sudah sore, menghindari hal-hal yang tidak di inginkan di hutan saya putuskan balik kanan, karena kalau balik kiri ntar saya nyemplung di got. Meskipun menurut si ibu warung kalau malam minggu kendaraan yang lewat biasanya lebih banyak dari hari biasa. Tetapi saya pikir kalau musim hujan seperti ini kadang membuat orang malas untuk keluar rumah. Setelah salim bolak balik kemudian saya pamit pulang kepada ibu warung.
Warung Ibu Indomie
Teh manis khas Cianten
Baru beberapa ratus meter gowes, saya melewati banyak anak kecil dan seorang ibu sedang duduk di depan sebuah warung yang tadi saya lewati. Kemudian si ibu menawarkan untuk mampir ke warung nya. Saya hanya jawab” terimakasih bu sudah sore”. Pas saya lihat ke si ibu ternyata ada gadis cantik duduk disebelahnya. Berparas cantik, kulit putih, rambut lurus panjang, wajah melankolis. Waduh...nyesel juga tadi gak mampir diwarung nyang ini..hehe.. Ternyata selain terdapat spot-spot selfi yang indah, di Cianten juga terdapat spot-spot yang cantik..hihi.. Yang statusnya masih single rekomended banget nih untuk gowes ke cianten. Di jamin malam minggu gowes bakalan gak mau pulang..hihi..Untuk yang statusnya masih di gantung, daripada kasihan, mending naik bus damri aja nih supaya cepat move on
Sekarang ini sudah ada bus perintis damri jurusan Leuwiliang-Pelabuhan Ratu via Cianten Cikidang, yang mau main ke Cianten atau Pelabuhan Ratu tetapi malas bawa kendaraan bisa naik bus Damri, mengenai ongkos silakan nego langsung sama kernet bus nya saja. Atau ada juga yang ingin main tetapi tidak punya biaya alias modal dengkul bisa menggunakan sepeda seperti saya..hehe..Contoh yang tidak patut di contoh.
Bus Damri Jurusan Pel.Ratu
Pulang Melewati hutan sepanjang 4 km di selingi hati yang berdebar-debar dan riang gembira. Berdebar-debar tatkala tidak ada orang dan gembira ketika berpapasan dengan sepeda motor yang lewat. Jam 6 kurang sudah sampai kembali di pertigaan karacak. Bablas terus lewat Ciampea Bantar Kambing. Prediksi lewat kampus IPB, Bubulak, dan Yasmin bakalan macet malam minggu seperti ini sehingga memilih lewat bantarkambing Atang Sandjaya. Di Bantar Kambing makan pecel lele dulu buat recharge tenaga gowes. Jam 20.00 lebih dikit sampai di rumah dengan selamat dengan total jarak pp 103 km.. Alhamdulillah ya rabb...

Tuesday, 3 January 2017

Gowes Dua Tanjakan

Gowes dua tanjakan yaitu Bukit Hambalang dan Gunung Pancar. Sabtu 31 Desember 2016 merupakan gowes di penghujung tahun 2016.Berhubung bertepatan dengan malam tahun baru maka sengaja dipilih 2 tanjakan saja agar sore sudah tiba dirumah. Dikhawatirkan jika mengambil rute yang terlalu panjang saat pulang kurang safety karena banyak kendaraan bermotor yang akan merayakan tahun baru. Start jam 09.30 dari rumah seperti biasa mengambil rute hambalang lewat leuwi nutug. Meskipun hari masih belum terlalu siang tetapi aura kendaraan yang akan merayakan tahun baru 2017 sudah nampak. Terlihat volume jalanan yang agak lebih ramai dari hari biasanya dan banyak motor berplat luar kota Bogor terutama plat B yang melintas di jalan raya Bogor dan Sentul. Cuaca Panas terik mengiringi prosesi nanjak kali ini, karena hampir tengah hari. Tepat jam 12 lebih 5 menit sampai juga di sebrang warung si teteh. Tapi untuk kali ini saya tidak mampir ke warung karena ada menu satu tanjakan lagi yang harus di selesaikan yaitu Gunung Pancar via Cimandala.
Setelah berhenti sejenak langsung nyorosot sampai di jalan babakan Madang. Tepat jam 13.00 sampai di depan Indomaret setelah Jungleland. Makan dulu di warung Padang, pesan rendang tanpa kuah sayur dan lalapan. Sampai di SD sekitar jam 14.38. Foto-foto sebentar di sebex karena terterik melihat beberapa Downhiler sedang trekking. Sampai di rumah sekitar jam 17.00 ditengah perjalanan pulang bertemu dengan penjual nanas, beli 4 buah sebagai oleh-oleh untuk membakar lemak diperut karena habis makan di warung padang. Total distance 60 km. Alhamdulillah...

GOWES CIORAY-SUKAMAKMUR

CIORAY-SUKAMAKMUR Senin 28 Pebuari 2022 bertepatan dengan hari libur Isra Miraj gowes dengan tujuan Cioray Sukamakmur. Setelah membaca berit...