Sunday, 19 February 2017

Gowes Nanjak Cianten

Gowes Pilkada-2 nanjak ke kebun teh Cianten. Sabtu 18 Februari 2017 mulai start pukul 09.05 dengan di dukung cuaca yang mendung. Setelah beberapa hari rutin di sambangi oleh hujan yang tiada henti, hari ini agak sedikit lebih baik karena belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Sampai di Pertigaan Karacak Leuwiliang sekitar pukul 11.00, sesuai dengan perkiraan. Meskipun sudah terbilang siang tetapi tidak ada sinar matahari yang muncul sehingga terasa gowes di pagi hari. Mantap pisan. Jarak ke kebun teh cianten dari pertigaan karacak sekitar 27 km, dengan formasi 20 km on road dan 7 km off road.
Sekitar Pukul 13.00 lebih sampai di Desa Puraseda, berhenti dulu untuk makan siang di sebuah warung Padang. Ini merupakan warung Padang terakhir, selain itu juga terdapat Indomaret. Tetapi tidak perlu kuatir, setelah ini di sepanjang jalan banyak terdapat warung-warung warga lokal yang menjual sembako dan minuman ringan. Pukul 14.30 lanjut kembali gowes, konturnya agak mulai berubah dari tanjakan halus menjadi tanjakan halusinasi..hihi. Setelah kurang lebih 3 km ketemu spot selfi, beberapa muda-mudi dan keluarga tampak sedang berfoto, karena imron gak kuat akhirnya tergoda juga untuk mampir...hehe. Jarak 2 km dari lapangan pertama ini terdapat lapangan ke dua yang juga merupakan spot selfi.
Jarak 4 km sebelum perbatasan kebun teh jalanan aspal digantikan oleh jalan berbatu-batu khas jalanan hutan TNGH. Jam 14.00 sampai pinggir hutan, mampir dulu di sebuah Mesjid. Subhanallah, meskipun dipinggir hutan masih terdapat masjid, letaknya di bawah jalan dengan air yang jernih dan melimpah. Setelah shalat dan rebahan sejenak pukul 14.30 lanjut kembali. Tak berapa lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi batu-batu jalan sehingga semakin mempersulit gowesan, beberapa kali ban slip karena batu-batu besar yang basah menjadi licin.
Aspalnya habis berganti jalan batu
Mulai masuk kawasan hutan
Sekitar pukul 15.30 sampai juga perbatasan dimana terdapat papan nama kebun teh Cianten yang menunjukan kalau kita mulai memasuki kawasan kebun teh Cianten. Jarak ke kantor induk perkebunan teh sekitar 3 km lagi dengan kondisi jalan berbatu.
Papan nama Cianten
Lanjut gowes lagi terus selfi lagi.haha...
Akhirnya nemu juga warung yang enak buat rebahan...pesen indomie telor plus teh manis. Tak lama kemudian indomie dan pesanan tehnya pun datang, menurut si ibu, teh ini merupakan asli Cianten. Warnanya sangat merah, biasanya kalau di rumah saya warna terlalu merah membuat teh menjadi pahit, tetapi untuk kali ini rasanya bener-bener nikmat, rasa teh cianten. Tidak terasa sudah menunjukan pukul 16.20, untuk ke kantor induk perkebunan teh Cianten sebenarnya sudah tidak terlalu jauh, tinggal turun melalui jembatan kemudian nanjak sedikit akan terlihat pos dan portal yang tidak jauh dari kantor induk. Tetapi berhubung hari sudah sore, menghindari hal-hal yang tidak di inginkan di hutan saya putuskan balik kanan, karena kalau balik kiri ntar saya nyemplung di got. Meskipun menurut si ibu warung kalau malam minggu kendaraan yang lewat biasanya lebih banyak dari hari biasa. Tetapi saya pikir kalau musim hujan seperti ini kadang membuat orang malas untuk keluar rumah. Setelah salim bolak balik kemudian saya pamit pulang kepada ibu warung.
Warung Ibu Indomie
Teh manis khas Cianten
Baru beberapa ratus meter gowes, saya melewati banyak anak kecil dan seorang ibu sedang duduk di depan sebuah warung yang tadi saya lewati. Kemudian si ibu menawarkan untuk mampir ke warung nya. Saya hanya jawab” terimakasih bu sudah sore”. Pas saya lihat ke si ibu ternyata ada gadis cantik duduk disebelahnya. Berparas cantik, kulit putih, rambut lurus panjang, wajah melankolis. Waduh...nyesel juga tadi gak mampir diwarung nyang ini..hehe.. Ternyata selain terdapat spot-spot selfi yang indah, di Cianten juga terdapat spot-spot yang cantik..hihi.. Yang statusnya masih single rekomended banget nih untuk gowes ke cianten. Di jamin malam minggu gowes bakalan gak mau pulang..hihi..Untuk yang statusnya masih di gantung, daripada kasihan, mending naik bus damri aja nih supaya cepat move on
Sekarang ini sudah ada bus perintis damri jurusan Leuwiliang-Pelabuhan Ratu via Cianten Cikidang, yang mau main ke Cianten atau Pelabuhan Ratu tetapi malas bawa kendaraan bisa naik bus Damri, mengenai ongkos silakan nego langsung sama kernet bus nya saja. Atau ada juga yang ingin main tetapi tidak punya biaya alias modal dengkul bisa menggunakan sepeda seperti saya..hehe..Contoh yang tidak patut di contoh.
Bus Damri Jurusan Pel.Ratu
Pulang Melewati hutan sepanjang 4 km di selingi hati yang berdebar-debar dan riang gembira. Berdebar-debar tatkala tidak ada orang dan gembira ketika berpapasan dengan sepeda motor yang lewat. Jam 6 kurang sudah sampai kembali di pertigaan karacak. Bablas terus lewat Ciampea Bantar Kambing. Prediksi lewat kampus IPB, Bubulak, dan Yasmin bakalan macet malam minggu seperti ini sehingga memilih lewat bantarkambing Atang Sandjaya. Di Bantar Kambing makan pecel lele dulu buat recharge tenaga gowes. Jam 20.00 lebih dikit sampai di rumah dengan selamat dengan total jarak pp 103 km.. Alhamdulillah ya rabb...

Tuesday, 3 January 2017

Gowes Dua Tanjakan

Gowes dua tanjakan yaitu Bukit Hambalang dan Gunung Pancar. Sabtu 31 Desember 2016 merupakan gowes di penghujung tahun 2016.Berhubung bertepatan dengan malam tahun baru maka sengaja dipilih 2 tanjakan saja agar sore sudah tiba dirumah. Dikhawatirkan jika mengambil rute yang terlalu panjang saat pulang kurang safety karena banyak kendaraan bermotor yang akan merayakan tahun baru. Start jam 09.30 dari rumah seperti biasa mengambil rute hambalang lewat leuwi nutug. Meskipun hari masih belum terlalu siang tetapi aura kendaraan yang akan merayakan tahun baru 2017 sudah nampak. Terlihat volume jalanan yang agak lebih ramai dari hari biasanya dan banyak motor berplat luar kota Bogor terutama plat B yang melintas di jalan raya Bogor dan Sentul. Cuaca Panas terik mengiringi prosesi nanjak kali ini, karena hampir tengah hari. Tepat jam 12 lebih 5 menit sampai juga di sebrang warung si teteh. Tapi untuk kali ini saya tidak mampir ke warung karena ada menu satu tanjakan lagi yang harus di selesaikan yaitu Gunung Pancar via Cimandala.
Setelah berhenti sejenak langsung nyorosot sampai di jalan babakan Madang. Tepat jam 13.00 sampai di depan Indomaret setelah Jungleland. Makan dulu di warung Padang, pesan rendang tanpa kuah sayur dan lalapan. Sampai di SD sekitar jam 14.38. Foto-foto sebentar di sebex karena terterik melihat beberapa Downhiler sedang trekking. Sampai di rumah sekitar jam 17.00 ditengah perjalanan pulang bertemu dengan penjual nanas, beli 4 buah sebagai oleh-oleh untuk membakar lemak diperut karena habis makan di warung padang. Total distance 60 km. Alhamdulillah...

Tuesday, 27 December 2016

Gowes Gunung Batu

Gowes Telolet ke Gunung Batu. Gunung Batu merupakan sebuah Gunung yang terletak di Desa Sukaharja Kecamatan Sukamakmur Bogor yang memiliki ketinggian 875 Mdpl. Meskipun secara administratif gunung batu masuk dalam wilayah kab Bogor tetapi orang lebih mengenal sebagai Gunung Batu Jonggol. Tema telolet dipilih karena fenomena bus telolet yang sedang hits dihampir penjuru dunia #twitter. Sampe-sampe Donald Trum aja, presiden amrik yang baru kepilih bingung What is om telolet om?? Gak pernah maen ke Jawa sih om yang satu entu.
Senin 26 Desember 2016 berangkat dari rumah di Bojonggede sekitar jam 09.30 dengan cuaca yang panas. Sampai di Harris Hotel Sentul stok minum sudah habis langsung mampir di alfamart, beli Aqua, Pocari dan Ultra kacang ijo. Sampai di SDN Cibadak 01 sekitar pkl 13.00. Mampir dulu di warung Sop Iga seberang Mesjid. Inilah menu yang paling di idam-idamkan kalau gowes lewat jalur ini. Tanpa terasa 1 piring nasi sudah habis dilahab, lanjut sendokan piring ke-2 ditemani tahu dan tempe goreng. Perut sudah kenyang, jam 13.24 langsung lanjut kembali. Sampai di pasar Sukamakmur jam 13.42, kemudian Sholat Zuhur sekitar jam 14.00 di mushola tempat biasa. Sampai di pertigaan petunjuk papan nama, sekitar jam 15.00 kurang. Berhenti dulu di pos sambil menikmati kerupuk sisa makan di warung Sop tadi. Setelah makan kerupuk, tenaga terasa bertambah semangat gowes timbul kembali. Awal-awal saja menikmati turunan, beberapa ratus meter kemudian ketemu juga yang namanya tanjakan. Lha iyalah, masa ke gunung gak nanjak. Gunung yang lain yg gak nanjak mah. Jika dibandingkan dengan tanjakan menuju Curug Ciherang, tanjakan Gunung Batu bisa dikatakan lebih bersahabat untuk tipe dengkul macem saya. Setelah gowes selama kurang lebih 1 jam, sampai juga di Gunung Batu. Minta tolong sama ibu-ibu untuk di fotoin.
Berhenti di warung depan pintu masuk pesan kelapa muda. Maknyuusss bener... kepala yang tadinya banyak bintang-bintang berganti dengan rembulan, padahal masih sore ya. Jam 16.15 pamit pulang sama akang penjaga warung. Untuk trekking nanjak ke puncak Gunung Batu menurut keterangan si akang membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan.. Olalah...next time aja deh klo gitu. Turunan 4 km dilahap dengan cepat, bahkan kalau ada turunan 50 km juga bakalan di babat habis. Sayang setelah 4 km jalannya menjadi turun naik gak karuan, bikin perut yang kenyang jadi mules-mules kaya habis makan sambel.
Rute pulang melalui jalan Tajur Fisabilillah Pasar Citeurep dengan menggunakan lampu yang sudah disiapkan. Sampai di citeurep beli minum yang banyak kemudian isi perut dengan pecel lele. Sampai dirumah sekitar pukul 21.00 lebih dikit dengan total jarak 92 km.
Alhamdullilah gowes telolet berlangsung dengan tolelot....

Sunday, 4 December 2016

Gowes Sukamakmur jilid 2 Kota Bunga

Gowes Sukamakmur jilid II ,Bojonggede-Sukamakmur Kotabunga Puncak. Sabtu 19 November 2016 merupakan gowes untuk yang ke dua kalinya menyambangi puncak pinus. Tapi kali ini saya berencana untuk lanjut sampai warung Mang Ade Puncak. Pukul 09.14 mulai gowes dari rumah di kawasan Bojonggede melalui rute Sentul-Karang Tengah. Rute Karang Tengah ini sudah terkenal akan tanjakan-tanjakannya yang super asoy, jaraknya lebih pendek dibandingkan jika kita melalui Citeurep, maka saya memilih jalur ini. Chek point pertama di jembatan pertama, jalanannya sudah di aspal halus, jembatan lama sudah tidak ada lagi disamping jembatan baru, tetapi cat nya masih berwarna kuning.
Lewat jembatan pertama, tanjakan foto session yang jalannya sudah hancur lebur sebelumnya juga sudah mulus, sehingga cukup membantu dalam nanjak. Selepas Leuwi Hejo sampai di jembatan ke-2. Jembatan kali Cileungsi. Waktu sudah menunjukan jam 12.15, sudah waktunya makan siang. Istirahat dulu di warung jembatan. Seperti biasa pesan indomie plus teh manis sebagai bekal nanjak sampai SDN Cibadak. Sampai di SDN Cibadak sekitar jam 13.00, di tengah terik matahari yang menyengat. Jika lewat pasar Citeurep sampai SDN Cibadak biasanya bisa di tempuh dalam waktu 3 jam, tetapi kali ini saya tempuh selama 4 jam melewati karang tengah. Jarak lebih pendek tetapi waktu tempuh jadi lebih lama..hadeuh...Jangan-jangan karena faktor dengkul yang sudah teklok kali ya..haha
Setelah rolling selama 1 jam, sampai di pasar suka makmur. Istirahat makan siang, pesan Sop Iga plus teh tawar hangat untuk tenaga menghadapi tanjakan tembok. Sop iga disini dagingnya sedikit agak keras jika dibandingkan dengan Sop Iga di warung samping SDN Cibadak, sayang tadi sudah kemasukan indomie duluan sehingga tidak mampir. Lanjut kembali melahap menu rolling sampai sampai di papan petunjuk puncak pinus 4 Km. Di tengah perjalanan mampir dulu di Mushola menuaikan kewajiban.
Di Mushola ngobrol ngalor-ngidul dengan Pak Haji. Beliau asli orang Sukamakmur, bercerita kalau jalanan sukamakmur ini dahulu merupakan jalan setapak, motor pun tidak bisa lewat karena ada bagian-bagian jalan yang tidak bisa dilalui oleh motor. Jika berbelanja atau menjual hasil kebun harus di panggul atau dipikul. Hebat-hebat perjuangan orang zaman dulu, bisa survive dengan keadaan yang ada. Harga tanah di pinggir jalan sukamakmur sekrang ini menurut pak haji berkisar 150 ribu/m2, barangkali ada yang mau invest..monggo..hehe..mumpung masih murah.
Setelah cukup lama ngobrol, lanjut kembali sampai di pertigaan papan petunjuk sudah terdengar azan Ashar. Nanjak 4 km sampai Curug Ciherang menghabiskan waktu selama 2 jam..hadeuh..fisik ternyata tidak ada peningkatan dari sebelumnya. Tepat jam setengah 6 sore smpai di warung depan papan nama puncak pinus, foto-foto sebntar mendadak hujan lebat. Semakin ditunggu semakin lebat dan cuaca dalam beberapa menit saja berubah drastis menjadi gelap. Hingga pukul 19.00 hujan pun tak kunjung reda, ngobrol2 dengan si aa anak penjaga warung, jalur ke Kota Bunga masih menanjak melewati hutan pinus yang sepi dan gelap setelah itu ketemu kampung arca jalanan hancur dan juga tidak ada rumah, kalau gowes seorang diri menurut dia cukup beresiko. Sedangkan jika saya balik melewati Citereup pun, akan memakan waktu sekitar 4-5 jam, sedangkan senter untuk penerangan saya bisa bertahan selama 2 jam. Kondisi dilema seperti lagu Cerrybel benar-benar saya hadapi sekarang. Akhirnya saya mencari jalan tengah untuk mencari penginapan untuk bermalam. Si Aa warung bersedia mengantarkan ke penginapan yang murah. Penginapannya ternyata disamping tempat karaoke, semakin dilema aja nih kondisi...
Minggu Pukul 6 kurang dikit saya melanjutkan perjalanan kembali dari penginapan setelah sebelumny berpamitan dulu dengan si teteh warung depan penginapan. Memasuki pohon pinus dengan udara pagi yang masih segar seperti terapi oksigen murni bagi tubuh. Lewat Curug Cipamingkis foto dulu di depannya. Nanjak kembali melewati hutan pinus sejauh kurang lebih 4km dengan disuguhi pemandangan yang indah dan udara yang segar. Memasuki kampung Arca, rumah2nya mirip seperti rumah plasma di kebanyakan perkebunan, jalanannya banyak titik-titik yang berlumpur. Mungkin ini yang dimaksud oleh si aa warung, kalu hujan lumpurnya turun sampai se betis hingga motor pun susah lewat. Jarak sekitar 7km treknya masih turun naik seperti menyebrang dari lembah satu ke lembah lainnya. Vegetasinya menjadi perkebunan tanaman budidaya yang diusahakan oleh masyarakat lokal. Setelah menumpuh sekitar 11km dari puncak pinus, setelah melewati SMPN 3 Cipanas, jalannya mulai diaspal cukup halus dengan jalur yang lebih banyak turun. Setelah 2 jam nyetir sepeda, akhirnya sampai di jln.Hanjawar kota bunga, disamping kiri Indomaret dan disamping kanan Alfamart. Saya pilih yang tengah-tengah saja..karena di tengah ada tukang lontong sayur..hehe
Jam setengah 9 lanjut kembali, buka google map, jarak ke warung mang ade sekitar 7,3km dengan kontur yang 99 persen nanjak,0,1 persen datar, 0 persen turunan..heehe.. Tanjakan Ciloto demikian para goweser menyebut tanjakan ini, jaraknya sekitar 4.5 km elevasinya tidak begitu curam tetapi berat dilalui. Baru melahap 2km saya beristirhat dulu diwarung dengan balai-balai tak bertuan. Tidak lama kemudian lewat beberapa goweser dengan jersey Godabike. Sesuai dengan namanya, sepertinya sangat menggoda untuk di ikuti. Kemudian saya mengikuti salah satu goweser itu, dengan kecepatan konstan sekitar 5-6 km/jam saya terus ikuti dari belakang hingga samapai di warung mang ade sekitar jam 10.30.
Langsung saja comot pisang dan pesan teh manis untuk menemani sop iga. Kayanya pulang-pulang harus cek kolesterol nih karena 2 hari berturut-turut di hajar sop iga. Setelah foto-foto lanjut pulang dengan membawa oleh2 kolesterol di badan..hehe.. sampai di rumah tepat pukul 13.00 dengan total jarak 117 km. Alhamdulillah.

Sunday, 9 October 2016

Gowes Gunung Dahu

Gowes Kekinian ke Gunung Dahu. Gunung Dahu terletak di Desa Pabangbon Kecamatan Leuwiliang. Merupakan hutan pinus tetapi di dalamnya terdapat Hutan Penelitian pohon Meranti yang disponsori oleh Komatstu. Jika Sentul terkenal akan KM 0 nya, di daerah Leuwiliang terdapat track Gunung Dahu yang identik dengan Km 0 Sentul. Sudah mulai bosan dengan Km 0? Mungkin tidak ada salahnya mencoba track yang satu ini.
Start dari rumah di Bojonggede sekitar jam 8 melewati Batu Gede masuk ke kampung-kampung kemudian tembus di Cimanggu City. Sampai di Lapangan bola depan Kecamatan Leuwiliang sekitar jam 09.45, berhenti dulu di Alfamart beli air untuk bekal nanjak. Istirahat 15 menit lanjut gowes kembali sampai ketemu papan petunjuk SMP Negeri 4 Leuwiliang di sisi kanan jalan, langsung saja belok mengikuti petunjuk arah. Jalanan lambat laun berubah dari awalnya datar perlahan-lahan mulai menanjak. Jarak menuju Hutan penelitian Meranti yang di sponsori Komatsu dari jepang sekitar 6 km lebih. Estimasi saya menyelesaikan sampai puncak hutan pinus sekitar 3 jam, artinya jam 13.00 saya perkiraan sampai di puncak Gunung dahu. Berbicara mengenai tanjakan, sepertinya tidak perlu dibahas panjang lebar karena jalan menuju puncak dahu isinya tanjakan semua. Kalo kata Sutan Bathoegana mah:’ngeri-ngeri sedap.’. Melewati SDN 02 Pabangbon, istirhahat dulu di saung pinggir jalan. Ya..disapanjang ini memang banyak saung-saung di pinggir jalan, jadi tidak perlu susah payah untuk cari-cari tempat istirahat untuk sekedar duduk atau tidur-tiduran. Sayup-sayup terdengar suara azan zuhur. Sedang asik rebahan, tiba-tiba dikejutkan oleh sosok ibu-ibu pengajian, duduk persis di dekat kepala saya. Hadeuh...
Petujuk SMPN 4 Leuwiliang di JL.Raya Karacak
Tanjakan Kandang Sapi
Jalanannya sepi
Pemandangan yang di lalui
Saya ajak ngobrol si ibu, kebetulan di bawah ada tulisan gunung menir dengan tanda panah ke kanan. Gunung menir yang ada Curug Ciparay bukan?? Ternyata di jawab sanes(beda). Gunung Menir yang disini tidak ada Curugnya. Si ibu kemudian bercerita kalau belum lama ini ada kecelakaan di Hutan Pinus. Dahulu sebelum ditanami meranti, merupakan hutan pinus dan sampai sekarang masih terdapat pohon-pohon pinus sehingga masyarakat sekitar sini mengenalnya sebagai hutan pinus. Motor mengangkut derigen bensin bertabrakan dengan motor dari arah yang berlawanan sehingga terjadi kecelakaan yang memuat tubuh pembawa bensin terbakar kemudian meninggal ditempat. Sedangkan pengendara lainnya meninggal setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Wah..serem juga denger cerita si ibu. Ditambahkan olehnya, dihutan Pinus sering terjadi kecelakaan. Tetapi ketika akan saya tanyakan lebih detail lagi soal kecelakaan lainnya, si ibu dihampiri oleh teman-temannya untuk mulai berjalan ke arah perkampungan, sepertinya sih mau kondangan atau pengajian dilihat dari pakaiannnya. Mangga bu...
Lanjut gowes lagi di tengah terik matahari yang menyengat, setengah jam kemudian mulai memasuki hutan Pinus, udara yang tadi panas berubah menjdi sejuk seperti di AC inverter dengan angin yang sepoi-sepoi. Sayonara panas!! Oalah..bikin mata jadi ngantuk ini mah. Karena penasaran akan akhir dari jalanan ini, setelah foto-foto lanjut nanjak kembali, sampai habis di atas langsung berubah menjadi turunan asik...hingga sampai di pertigaan ada sebuah warung..istirahat dulu ganjal perut karena sudah jam 13.00 lebih dikit..
Tanjakan Setan
Pemandangan setelah tanjakan Setan
Masuk Hutan Penelitian Meranti
Langsung pesen teh manis hangat sama teteh warung sekalian pesen indomie pake telor. Makan siang kali ini sepertinya hanya ketemu indomie, Kemudian bertanya sama si teteh warung jalannya kalau terus tembus dimana. Ternyata jalannya tembus di daerah nanggung. Jalannya jelek tetapi tinggal turun aja katanya. Dengar kata turunan membuat hati saya berbunga-bunga. Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih sama si teteh, saya bersemangat kembali melanjutkan perjalanan.
Warung si teteh
Turunan tajam langsung di libas dengan sekejap, dan begitupun dengan turunan-turunan berikutnya. Hingga pada suatu ketika, saya melihat jalanan batu di depan mata saya yang membuat bunga-bunga di hati saya kuncup dengan seketika. Kebetulan di depan ada saung dan ada bapak-bapak yang sedang duduk saya menanyakan jalan untuk sampai ke Leuwiliang. Si bapak memberikan petunjuk lurus saja, nanti ketemu jalan raya nanggung ambil ke kanan. Jalanan rusak ini paling Cuma beberapa ratus meter saja, nanti setelah itu bagus kembali, demikian penjelesan si bapak. Sebelum menjajal tanjakan batu saya keluarkan kamera pocket saya, karena hp saya sudah mati total. Foto-foto sebentar sebagai barang bukti..hehe. Meskipun tidak kuat nanjak, tetapi yang penting bukti-buktinya kuat..hihi..
Tanjakan Batu
Di tengah tanjakan mulai gowes lagi, karena malu ada 2 anak kecil yang ternyata memperhatikan saya entah sejak kapan. Untunglah meski pelan berhasil gowes perlahan-lahan, 2 anak kecil terus saja mengikuti saya dari belakang, tetapi ketika saya meminta mereka mendorong saya mereka mengacuhkan permintaan saya..aduhh,,apesss banget. Harusnya dikasih uang kali yaa..hehe..lupa.
Jalanan sudah menurun kembali, 2 anak kecil tadi sudah tidak terlihat lagi dari pandangan saya. Ketemu pertigaan, terpaksa cari penduduk sekitar buat tanya-jawab. Saya bertanya mereka menjawab. Ketemu ada ibu yang keluar dari rumahnya sambil menggendong anak, diberitahukan kalau mau ke Leuwisadeng belok kanan terus kiri, kalau lurus buntu. Hatur nuhun ibuu....
Turunan disini bener-bner serem,salah pencet rem bisa-bisa jumpalitan alias nyungsep. Saya tidak dapat membayangkan kalau rutenya dibalik, bisa-bisa pulang saya mencret-mencret.
Akhirnya sampai juga di jalan raya, tertulis jalan raya antam. Saya ambil kanan sesuai petunjuk si Bapak saung. Gowes beberapa ratus meter ketemu indo maret, ciri-ciri yang menandakan adanya peradaban. Oh..syukurlah ucap saya dalam hati. Mampir dulu dulu ah beli minuman buat tambahan stok di jalan. Saat membayar,si Kasir Indomaret bertanya kepada saya. Habis darimana pak? Dari gunung atas mbk, sambil tangan saya menunjuk ke arah belakang indomaret. Kemudian saya beritahu kalau saya dari kampung Nangela...sesuai yang saya baca di rumah penduduk. HaaHH!! Si mbak terkejut dan langsung diam seribu bahasa.
Jalanan yang terlihat rata tetapi ternyata berupa turunan panjang yang kadang diselingi tanakan-tanjakan kecil yang bikin emosi.
Sampai pasar leuwiliang terdengar suara azan Ashar, menunjukan waktu pukul 3 lebih. Jarak tempuh sudah sekitar 60km lebih. Melipir dulu di rumah saudara di Galuga. Ishoma dan ngobrol2 sampai jam 7 mlm, setelah itu pamit pulang. Sampai di rumah pukul 20.46 dengan total jarak tempuh sekitar 92 km. Alhamdulillah....

GOWES CIORAY-SUKAMAKMUR

CIORAY-SUKAMAKMUR Senin 28 Pebuari 2022 bertepatan dengan hari libur Isra Miraj gowes dengan tujuan Cioray Sukamakmur. Setelah membaca berit...